Jakarta – Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) mempertanyakan dasar kesimpulan polisi terkait identifikasi dua kerangka manusia yang ditemukan di Gedung Astra Credit Companies (ACC) Kwitang, Jakarta Pusat. Faseberita.id melaporkan, kerangka tersebut diduga kuat sebagai Reno Syahputra Dewo dan Muhammad Farhan Hamid, yang dilaporkan hilang pasca-demo akhir Agustus lalu.
Koordinator KontraS, Dimas Bagus Arya, mengungkapkan bahwa sejak awal penemuan kerangka pada 30 Oktober, polisi telah mengarahkan dugaan kepada Reno dan Farhan. “Kenapa langsung jump into conclusion bahwa dua kerangka itu adalah Farhan dan Reno?” tanya Dimas, usai konferensi pers di RS Polri Kramat Jati, Jumat (7/11).

KontraS mempertanyakan mengapa polisi langsung menyimpulkan identitas kerangka, padahal sebelumnya kepolisian mengklaim telah mengidentifikasi Reno dan Farhan berada di lokasi pembakaran fasilitas umum di Kwitang, Senen, dan Salemba. Dimas juga menyoroti bahwa Puslabfor Bareskrim Polri sebelumnya telah melakukan pemeriksaan TKP Gedung ACC untuk mencari penyebab kebakaran, namun tidak menemukan kerangka manusia.
Selain itu, KontraS mempertanyakan keakuratan waktu kematian korban. “Apakah polisi yakin betul dua kerangka ini sudah ada sejak tanggal 29 Agustus ketika gedung itu terbakar? Apakah tidak ada kemungkinan lain?” ujar Dimas.
Kejanggalan lain yang disoroti adalah terkait ponsel milik Farhan. Polisi mengklaim jejak komunikasi Farhan menunjukkan ponselnya digadaikan sebelum kerusuhan. KontraS mempertanyakan apakah ada pengambilalihan akun media sosial Farhan setelah ponselnya berpindah tangan.
Sebelumnya, RS Polri menyimpulkan bahwa dua kerangka manusia yang ditemukan di Gedung ACC Kwitang identik dengan Reno dan Farhan berdasarkan hasil identifikasi primer pada gigi dan tulang, serta data kesehatan sebelum kematian.







