Prioritaskan Keselamatan, KAI Batasi Kecepatan di Bekasi Timur
Bekasi, faseberita.id – PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI telah memberlakukan pembatasan kecepatan bagi seluruh kereta api jarak jauh yang melintasi Stasiun Bekasi Timur. Kebijakan ini merupakan langkah mitigasi pasca-insiden kecelakaan antarkereta yang terjadi di lokasi tersebut pada awal pekan ini.

Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, menegaskan bahwa pembatasan kecepatan 30 kilometer per jam masih diterapkan di area stasiun tersebut. Pernyataan ini disampaikannya saat meninjau langsung Stasiun Bekasi Timur pada Rabu, 29 April 2026.
Bobby menjelaskan, Stasiun Bekasi Timur kini telah kembali beroperasi penuh, melayani perjalanan kereta api jarak jauh dan juga Kereta Rel Listrik (KRL). Jalur hilir, yang sempat terdampak, telah dibuka kembali sejak Selasa, 28 April 2026, pukul 01.30 WIB. Sementara itu, operasional KRL ditargetkan dapat kembali berjalan dengan frekuensi normal mulai hari ini. Pembukaan kembali jalur Cikarang, tambahnya, telah mendapatkan izin resmi dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).
Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, turut membenarkan bahwa keputusan pembatasan kecepatan kereta jarak jauh ini adalah hasil rekomendasi dari KNKT. Sebelum mengizinkan Stasiun Bekasi Timur beroperasi kembali, Kementerian Perhubungan bersama KAI dan KNKT telah melakukan serangkaian uji coba menyeluruh terhadap kondisi rel dan sistem persinyalan, baik untuk kereta jarak jauh maupun KRL.
"Uji coba itu kami lakukan untuk memastikan bahwa Stasiun Bekasi Timur sudah benar-benar aman dan siap kembali melayani penumpang," ujar Dudy. Ia juga menekankan pentingnya aspek keselamatan. "Keselamatan adalah prioritas utama yang kami tekankan kepada PT KAI dalam setiap persiapan pembukaan kembali Stasiun Bekasi Timur," tegasnya.
Sebagai informasi, kecelakaan tragis melibatkan Kereta Api Argo Bromo Anggrek rute Gambir-Surabaya Pasar Turi dengan KRL tujuan Cikarang terjadi di Stasiun Bekasi Timur pada Senin malam, 27 April 2026. Insiden tersebut mengakibatkan hilangnya nyawa 16 penumpang perempuan KRL, data yang tercatat hingga Rabu, 29 April 2026.
Bobby Rasyidin menambahkan, proses evakuasi penumpang KRL berlangsung intensif selama kurang lebih 10 jam. Setelah itu, tim KAI segera menarik lokomotif dan memindahkan badan KRL yang tertabrak dari jalur rel Stasiun Bekasi Timur. Proses evakuasi gerbong KRL yang tertabrak tersebut memakan waktu sekitar satu jam, yakni dari pukul 12.00 hingga 13.00 WIB pada Selasa kemarin.
"Pada saat ini, kami sudah mendapatkan clearance dari KNKT bahwa jalur tersebut sudah bisa dilewati, dengan catatan adanya pembatasan kecepatan," pungkas Bobby, memastikan bahwa keselamatan tetap menjadi fokus utama dalam setiap operasional kereta api.

