News  

Optimisme Wamenkeu: Ekonomi RI Melesat 5,5% di Kuartal I

admin

Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung melontarkan proyeksi optimistis terkait kinerja perekonomian Indonesia. Ia meyakini pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama tahun 2026 akan mencapai 5,5 persen, sebuah peningkatan dari capaian kuartal sebelumnya sebesar 5,39 persen. Pernyataan ini disampaikan Juda dalam agenda Kick Off Percepatan Intermediasi Indonesia (Pinisi) di kantor pusat Bank Indonesia, Jakarta, Senin (27/4/2026), menjelang rilis data pertumbuhan ekonomi triwulanan oleh pemerintah pada 5 Mei mendatang.

Mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia ini menjelaskan, dasar keyakinan tersebut berpijak pada peningkatan signifikan penerimaan negara, khususnya dari sektor pajak. Juda memaparkan, dari Januari hingga Maret 2026, penerimaan pajak secara rata-rata melesat 20,3 persen. Lonjakan ini terutama didorong oleh Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang melonjak hingga 57,7 persen.

Optimisme Wamenkeu: Ekonomi RI Melesat 5,5% di Kuartal I
Gambar Istimewa : statik.tempo.co

"Indikator ini jelas menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi, baik dari sisi konsumsi masyarakat maupun transaksi di dunia usaha dan industri, telah tumbuh dengan cukup baik," ujar Juda. Ia menambahkan, PPN dan PPnBM secara langsung merefleksikan transaksi pembelian barang, baik itu barang ritel untuk konsumsi maupun barang modal untuk dunia usaha.

Sepanjang triwulan pertama 2026, total penerimaan negara tercatat sebesar Rp 574,9 triliun, tumbuh 10,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Di sisi lain, belanja negara menunjukkan akselerasi yang lebih tinggi, melonjak 31,4 persen menjadi Rp 815 triliun. Kondisi ini mengakibatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di tiga bulan pertama mengalami defisit sebesar Rp 240,1 triliun.

Juda menjelaskan, defisit tersebut merupakan bagian dari strategi Kementerian Keuangan untuk melakukan belanja negara secara agresif di awal tahun. "Ini memang tujuannya agar pertumbuhan ekonomi itu merata, cepat, dan dampaknya terasa di tahun yang sama," terang Juda, mengubah pola pengeluaran pemerintah yang biasanya cenderung menumpuk di akhir tahun.

Ia mengklaim, strategi belanja ekspansif di awal tahun ini berhasil mendorong pertumbuhan konsumsi. Namun, Juda juga mengakui adanya sedikit perlambatan konsumsi pada Maret, yang dipengaruhi oleh ekspektasi kondisi ekonomi ke depan, terutama akibat dampak konflik di Timur Tengah.

Ikuti Kami di Google News:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *