faseberita.id – Setelah sempat mengalami tekanan hebat selama lima hari berturut-turut, saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) akhirnya menunjukkan tanda-tanda pembalikan arah yang signifikan. Setelah sempat tertahan di level terendah atau "gocap" (Rp50), pergerakan saham perusahaan teknologi raksasa ini kembali mencuri perhatian para pelaku pasar di Bursa Efek Indonesia.
Pada perdagangan terbaru, saham GOTO sempat menyentuh level Rp27 pada sesi pertama. Namun, kejutan terjadi pada sesi kedua di mana harga saham ini tiba-tiba melonjak naik ke level Rp30 per lembar, atau mencatatkan kenaikan sebesar 7,14%. Lonjakan ini diikuti dengan volume perdagangan yang sangat masif, mencapai lebih dari 82 miliar saham dengan nilai transaksi menembus angka Rp2,23 triliun. Aktivitas ini menjadi yang paling ramai dalam satu pekan terakhir, menandakan adanya minat beli yang besar dari para investor.

Fenomena kenaikan harga ini memicu diskusi hangat di kalangan analis mengenai prospek masa depan perusahaan. Kafi Ananta, analis dari BRI Danareksa Sekuritas, memberikan pandangan optimis terkait kondisi valuasi GOTO saat ini. Menurutnya, harga saham yang sedang tertekan justru menciptakan peluang karena nilai saham tersebut sudah berada di bawah nilai buku atau price-to-book value.
"Kondisi saat ini menunjukkan bahwa valuasi saham GOTO sudah sangat rendah dibandingkan dengan nilai buku perusahaan, padahal perusahaan sudah berhasil membukukan laba bersih selama dua kuartal berturut-turut," ungkap Kafi Ananta.
Pencapaian profitabilitas menjadi poin krusial yang memperkuat argumen bahwa saham ini sedang dalam kondisi undervalued atau murah. Berdasarkan laporan keuangan terbaru, GOTO berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp252 miliar pada kuartal II 2026, melonjak sekitar 47% dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar Rp171 miliar. Selain itu, pendapatan bersih perusahaan tumbuh 31% secara tahunan menjadi Rp5,7 triliun.
Kinerja keuangan yang solid ini didukung oleh EBITDA Grup yang disesuaikan yang berhasil melampaui angka Rp1 triliun untuk pertama kalinya. Hal ini memberikan sinyal positif bahwa target EBITDA tahunan sebesar Rp3,2 triliun hingga Rp3,4 triliun masih berada dalam jangkauan perusahaan.
Selain fundamental yang membaik, GOTO juga memiliki "senjata" tambahan untuk menjaga stabilitas harga sahamnya, yakni program pembelian kembali saham atau buyback. Perusahaan telah mendapatkan persetujuan untuk melakukan buyback dengan nilai maksimal mencapai Rp3,5 triliun untuk periode Juni 2026 hingga Juni 2027.
Kafi menambahkan bahwa rencana buyback ini bisa menjadi katalis positif bagi investor. "Dengan harga yang sudah terdiskon seperti sekarang, ini bisa menjadi momentum yang tepat bagi manajemen untuk melakukan pembelian kembali saham. Langkah ini akan menjadi sinyal kuat bahwa manajemen sangat percaya diri terhadap nilai perusahaan di masa depan," pungkasnya. Meski demikian, investor tetap dihimbau untuk mencermati arah pergerakan pasar selanjutnya guna memastikan tren pemulihan ini bersifat berkelanjutan.







