faseberita.id – Bursa saham Indonesia ditutup dengan performa mengecewakan pada Senin 21 September 2026. Indeks Harga Saham Gabungan IHSG anjlok 0,88 persen atau kehilangan 56,43 poin dan mengakhiri perdagangan di level 6.384,73. Pelemahan tajam ini sebagian besar dipicu oleh tekanan jual yang masif pada saham-saham sektor energi.
Sejak pembukaan perdagangan IHSG sebenarnya sempat menunjukkan tanda-tanda optimisme dengan dibuka di 6.446,90 dan bahkan menyentuh puncak harian di 6.451,33. Namun harapan itu sirna setelah tekanan jual yang kuat menyerbu pasar. Indeks kemudian berbalik arah dan terus merosot hingga menyentuh level terendah 6.381,57 sebelum sedikit membaik jelang penutupan. Total koreksi dari level tertinggi mencapai 66,60 poin.

Aktivitas perdagangan hari itu mencerminkan sentimen negatif. Sebanyak 372 saham terkapar di zona merah sementara hanya 294 saham yang berhasil menguat dan 297 lainnya stagnan. Pasar reguler mendominasi transaksi dengan volume mencapai 239,41 juta lot senilai Rp10,21 triliun dari 1,82 juta kali transaksi. Sementara itu pasar negosiasi mencatatkan 28,54 juta lot dengan nilai Rp1,58 triliun.
Data dari Refinitiv menunjukkan bahwa sektor energi menjadi biang keladi utama dengan koreksi 2,2 persen. Sektor utilitas juga tak luput dari tekanan dengan penurunan 1,9 persen diikuti sektor non-kritikal yang melemah 0,8 persen. Saham-saham raksasa seperti PT Bayan Resources Tbk BYAN PT Bank Mandiri Persero Tbk BMRI PT Telkom Indonesia Persero Tbk TLKM PT Bank Rakyat Indonesia Persero Tbk BBRI dan PT Barito Renewables Energy Tbk BREN menjadi penekan utama IHSG. Di sisi lain beberapa saham seperti PT Maha Properti Indonesia Tbk MPRO dan PT Indokripto Koin Semesta Tbk COIN mencoba menahan laju penurunan.
Pekan ini pasar keuangan global dan domestik diperkirakan masih akan dihantui oleh serangkaian isu krusial. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah khususnya konflik Houthi dan Arab Saudi menjadi salah satu bayangan gelap yang membayangi sentimen investor. Selain itu keputusan suku bunga dari sejumlah bank sentral termasuk Bank of Japan BOJ dan kebijakan Loan Prime Rate China akan menjadi fokus utama.
Dari dalam negeri perhatian akan tertuju pada Rapat Dewan Gubernur RDG Bank Indonesia serta perkembangan data uang beredar. Sementara itu Amerika Serikat dijadwalkan merilis data pesanan barang tahan lama yang bisa memberikan petunjuk arah ekonomi terbesar dunia tersebut.
Kebijakan moneter AS juga masih menjadi faktor penentu. Federal Reserve The Fed pekan lalu telah menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam tiga tahun di tengah inflasi yang sulit dijinakkan dan imbal hasil obligasi yang melambung tinggi. Harga minyak mentah yang bertahan di sekitar 100 dolar AS per barel dan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang mendekati 5 persen semakin menambah kekhawatiran investor akan tekanan inflasi dan arah kebijakan moneter global.
Di tengah gejolak tersebut pertemuan antara Donald Trump dan Xi Jinping menjadi agenda yang paling ditunggu. Pembicaraan ini diharapkan menyentuh berbagai isu ekonomi penting mulai dari tarif perdagangan mineral kritis kecerdasan buatan hingga persoalan ekonomi lainnya. Sebagai langkah awal Menteri Keuangan AS Scott Bessent telah lebih dulu bertemu dengan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng.







