Bank Sentral Hentikan Rilis Indikator Rupiah Mingguan, Akses Kini Berbeda
faseberita.id – Bank Indonesia (BI) telah mengambil langkah signifikan dengan menghentikan publikasi data mingguan terkait indikator stabilitas rupiah. Kebijakan ini mulai berlaku pada minggu pertama Maret 2026, menandai perubahan dalam cara masyarakat dan pelaku pasar memantau pergerakan mata uang domestik.

Data yang tidak lagi dirilis secara berkala oleh bank sentral meliputi perkembangan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat serta imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN). Sebelumnya, informasi krusial ini rutin disajikan BI setiap akhir pekan. Publikasi terakhir tercatat pada Jumat, 27 Februari 2026.
Ramdan Denny Prakoso, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, dalam siaran pers yang dikeluarkan pada 27 Februari 2026, menyatakan bahwa penghentian ini bertujuan "untuk terus memperkuat akuntabilitas dan reliabilitas data." Namun, saat dihubungi oleh Tempo untuk menanyakan alasan spesifik di balik keputusan ini, Denny tidak memberikan penjelasan lebih lanjut.
Denny hanya mengarahkan bahwa mulai Maret 2026, masyarakat yang membutuhkan informasi mengenai indikator stabilitas rupiah dapat mengaksesnya melalui platform lain. "Masyarakat yang membutuhkan informasi perkembangan DXY, yield UST (US Treasury), dan yield SBN dapat langsung update secara realtime melalui platform penyedia data tersebut," jelas Denny kepada Tempo pada Minggu, 8 Maret 2026.
Langkah ini bukanlah yang pertama kali dilakukan oleh BI dalam hal perubahan format publikasi data. Sebelumnya, pada 6 Februari 2026, BI juga telah menghentikan penyajian data aliran modal asing secara mingguan. Saat itu, BI mengarahkan publik untuk mengakses data tersebut langsung dari lembaga terkait. Perkembangan transaksi saham dapat dilihat di laman Bursa Efek Indonesia, sementara perkembangan kepemilikan SBN dengan periode harian bisa diakses melalui laman Kementerian Keuangan. Adapun perkembangan transaksi Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) periode mingguan tetap dapat diakses melalui laman resmi BI.
"Dengan demikian perkembangan indikator-indikator di atas tidak lagi dipublikasikan dalam format siaran pers," tegas Denny kala itu, menggarisbawahi pergeseran strategi komunikasi data oleh bank sentral.
Meskipun BI tidak lagi merilis data secara mingguan, perkembangan pasar tetap menunjukkan dinamika yang signifikan. Berdasarkan data dari Trading Economics, rupiah sempat melemah hingga menyentuh level Rp 16.949 per dolar AS pada Jumat, 6 Maret 2026. Pada periode yang sama, Indeks Dolar AS (DXY) terpantau menguat ke level 98,98, sementara yield US Treasury (UST) 10 tahun berada di 4,133 persen dan yield SBN tercatat 6,588 persen. Pergeseran ini menunjukkan bahwa meskipun sumber data berubah, kebutuhan akan informasi stabilitas ekonomi tetap relevan bagi para pelaku pasar dan pengamat.

