faseberita.id – Pasar saham Indonesia hari ini dikejutkan dengan pelemahan signifikan Indeks Harga Saham Gabungan IHSG. Setelah sempat melesat kencang kemarin laju IHSG pada sesi siang Kamis 24 September 2026 justru berbalik arah terjun bebas lebih dari satu persen. Pada pukul 11.24 WIB indeks utama ini tercatat merosot 6384 poin atau 016 persen ke level 631107. Pergerakan harian IHSG berada di kisaran 631402 hingga 636857. Data perdagangan menunjukkan 232 saham berhasil menguat 90 saham melemah dan 312 saham lainnya stagnan. Total nilai transaksi mencapai sekitar Rp 16171 miliar dengan volume perdagangan mencapai 30259 juta saham yang berpindah tangan sebanyak 27965 kali.
Kondisi pasar yang bergejolak ini tak lepas dari perhatian investor terhadap beberapa faktor krusial. Dari dalam negeri fokus utama tertuju pada respons pasar usai Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuannya. Selain itu aturan baru terkait perdagangan saham dan rilis data uang beredar juga menjadi sorotan. Sementara itu dari kancah global kunjungan Presiden Tiongkok Xi Jinping ke Amerika Serikat serta lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS US Treasury dan penguatan indeks dolar berpotensi menjadi pemicu badai baru bagi pergerakan IHSG.

Keputusan penting datang dari Bank Indonesia yang melalui Rapat Dewan Gubernur RDG pada 22-23 September 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate di level 575 persen. Suku bunga Deposit Facility juga tetap di angka 475 persen dan Lending Facility pada 650 persen. Gubernur BI Destry Damayanti dalam konferensi pers Rabu 23 September 2026 menegaskan keputusan ini. Langkah BI ini sejalan dengan hasil survei yang dilakukan faseberita.id terhadap 11 institusi dan lembaga. Delapan responden memprediksi BI Rate akan tetap sementara tiga lainnya memperkirakan kenaikan sebesar 25 basis poin menjadi 600 persen.
Dengan keputusan tersebut Bank Indonesia telah konsisten menahan suku bunga acuan dalam tiga pertemuan beruntun sejak Juli 2026. BI Rate kini bertahan di 575 persen setelah sebelumnya sempat dinaikkan secara kumulatif 100 basis poin sepanjang Mei-Juni. Kenaikan suku bunga terjadi bertahap dari 475 persen menjadi 525 persen pada 20 Mei 2026 lalu naik lagi ke 550 persen pada 9 Juni dan mencapai puncaknya 575 persen pada 18 Juni 2026.
Di sisi lain sentimen negatif juga datang dari pasar global terutama terkait lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat US Treasury tenor 10 tahun. Pada perdagangan Rabu 23 September 2026 imbal hasil ini melonjak tajam menembus level tertinggi dalam hampir dua dekade terakhir. Peningkatan ini dipicu oleh data ekonomi AS yang menunjukkan aktivitas bisnis sangat kuat sekaligus memicu kekhawatiran inflasi yang lebih tinggi. Yield Treasury 10 tahun melesat 15 basis poin mencapai 511 persen sebuah rekor sejak tahun 2007 bahkan sempat menyentuh 514 persen.
Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS ini memiliki dampak luas karena menjadi patokan biaya pinjaman di berbagai sektor ekonomi. Saat yield naik biaya kredit perumahan pinjaman kendaraan hingga pembiayaan bisnis akan ikut terdorong lebih tinggi. Data dari S&P Global menunjukkan aktivitas bisnis AS pada September tumbuh tercepat sejak Juli 2021. Di saat yang sama biaya input melonjak akibat kenaikan harga energi. Situasi ini memperkuat spekulasi bahwa Federal Reserve The Fed masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga demi meredam inflasi mengingat perekonomian AS yang masih kokoh.
Tidak hanya tenor 10 tahun imbal hasil obligasi AS lainnya juga mencatatkan kenaikan signifikan. Yield Treasury 30 tahun melonjak 11 basis poin menjadi 54 persen level tertinggi tahun ini dan tertinggi sejak 2007 untuk intraday serta tertinggi sejak 2004 untuk penutupan. Sementara itu yield Treasury 2 tahun yang sangat sensitif terhadap ekspektasi kebijakan The Fed naik sekitar 16 basis poin mencapai 49 persen level tertinggi sejak 2024. Yield Treasury 5 tahun bahkan menembus 5 persen untuk pertama kalinya sejak 2007 setelah lelang obligasi rutin pada Rabu.
Bagi Indonesia lonjakan imbal hasil global ini menjadi kabar kurang menyenangkan. Peningkatan yield US Treasury berpotensi memicu kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara SBN dalam negeri yang pada akhirnya dapat menambah beban utang pemerintah.







