faseberita.id – Bank Indonesia (BI) memberikan proyeksi terbaru mengenai kondisi ekonomi makro Indonesia, khususnya terkait ketahanan eksternal negara. Dalam pernyataan resminya, otoritas moneter tersebut memperkirakan bahwa defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) akan bergerak pada rentang 1,6 persen hingga 2,4 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun 2026 mendatang.
Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengungkapkan bahwa meskipun terdapat fluktuasi, fondasi ekonomi nasional diprediksi tetap mampu menjaga ketahanan eksternal. Hal ini disampaikan dalam sebuah konferensi pers yang digelar pada Rabu (21/10/2026). Menurutnya, angka proyeksi tersebut menunjukkan upaya stabilisasi di tengah dinamika ekonomi global yang tidak menentu.

"Ke depan, ketahanan eksternal kita tetap diprediksi kuat dengan perkiraan defisit transaksi berjalan berada di level 2,4 persen hingga 1,6 persen pada tahun 2026," ujar Destry dalam keterangannya kepada awak media.
Namun, jika menilik data historis yang baru saja dirilis, kondisi ekonomi sempat mengalami tekanan yang cukup signifikan. Pada triwulan II tahun 2026, Indonesia mencatatkan defisit transaksi berjalan sebesar 12,5 miliar dolar AS. Jika dikonversikan ke dalam persentase, angka tersebut setara dengan 3,3 persen dari PDB.
Angka ini menunjukkan pelebaran defisit yang cukup tajam jika dibandingkan dengan capaian pada triwulan sebelumnya. Pada triwulan I 2026, defisit hanya berada di angka 3,6 miliar dolar AS atau sekitar 1,0 persen dari PDB. Kondisi pada triwulan kedua ini bahkan disebut-sebut sebagai salah satu titik terendah atau performa terburuk dalam catatan sejarah transaksi berjalan Indonesia.
Selain fokus pada transaksi berjalan, Bank Indonesia juga menyoroti kondisi Neraca Pembayaran Indonesia (NPI). Meskipun menunjukkan tren perbaikan, BI menilai NPI masih memerlukan penguatan lebih lanjut untuk memastikan stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga dari guncangan eksternal.
Data menunjukkan bahwa pada kuartal II-2026, NPI mencatatkan defisit sebesar 0,9 miliar dolar AS. Meski angka ini merupakan sebuah kemajuan, namun jika dibandingkan dengan kondisi pada triwulan I 2026 yang mengalami defisit cukup dalam sebesar 9,1 miliar dolar AS, perbaikan tersebut memang terlihat nyata.
Destry menegaskan bahwa penguatan kinerja NPI menjadi prioritas agar ketahanan ekonomi Indonesia semakin kokoh. Langkah-langkah strategis terus disiapkan untuk memitigasi risiko yang mungkin muncul dari ketidakpastian pasar global. Fokus utama pemerintah dan BI adalah memastikan bahwa meskipun terjadi defisit, level tersebut tetap berada dalam batas yang terkendali dan tidak mengganggu stabilitas nilai tukar maupun pertumbuhan ekonomi nasional secara keseluruhan.
Melalui proyeksi yang lebih moderat pada tahun 2026 nanti, BI optimis bahwa manajemen risiko yang diterapkan saat ini akan membuahkan hasil yang positif bagi kesehatan fiskal dan moneter Indonesia di masa depan.







