faseberita.id – PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau ID Food, melalui Direktur Utamanya Ghimoyo, mengungkapkan kekhawatiran serius terkait ketersediaan kemasan plastik. Sektor pangan, yang menjadi fokus utama ID Food, kini dihadapkan pada tantangan besar akibat kelangkaan material esensial ini. Pernyataan tersebut disampaikan Ghimoyo dalam rapat kerja bersama Komisi IV DPR pada Selasa, 7 April 2026.
Ghimoyo menjelaskan, akar masalah kelangkaan ini berasal dari terganggunya pasokan bahan baku utama, yakni biji plastik, yang merupakan imbas langsung dari konflik geopolitik di Timur Tengah. Ia menekankan betapa vitalnya kemasan plastik bagi keberlangsungan distribusi produk pangan pokok seperti beras dan minyak goreng, bahkan hingga pupuk. "Ini sangat krusial, mengingat hampir seluruh produk pangan, pupuk, dan beras mengandalkan karung atau kemasan plastik," tegasnya.

Kenaikan harga plastik di pasar domestik telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Fenomena ini tidak terlepas dari terhambatnya suplai nafta, derivat minyak bumi yang merupakan komponen kunci dalam pembuatan plastik, yang sebagian besar diimpor dari Timur Tengah. Eskalasi konflik antara Iran dan Israel telah memporak-porandakan rantai pasok energi dan bahan kimia di wilayah tersebut, berujung pada lonjakan harga yang signifikan di kancah global.
Menanggapi situasi ini, Menteri Perdagangan Budi Santoso sebelumnya menyatakan bahwa pemerintah aktif mencari sumber alternatif nafta guna menjamin kelancaran pasokan dan menstabilkan harga di pasar domestik. "Nafta, salah satu bahan baku utama plastik, memang harus kita impor dari Timur Tengah. Namun, kawasan tersebut kini tengah dilanda dampak perang Iran-Israel dan Amerika Serikat," jelas Budi saat ditemui di Sukoharjo, Jawa Tengah, pada Kamis, 2 April 2026.
Ia mengidentifikasi setidaknya tiga negara potensial sebagai pemasok alternatif: Afrika, India, dan Amerika. Negosiasi intensif sedang berlangsung, meski penyelesaian kontrak dan proses distribusi diperkirakan memerlukan waktu. Lebih lanjut, Budi juga menyoroti bahwa kendala produksi tidak hanya terbatas pada Timur Tengah. Sejumlah negara produsen plastik global seperti Singapura, Thailand, Korea Selatan, dan Taiwan dilaporkan mengalami force majeure, menghambat kemampuan mereka memenuhi kontrak pasokan. "Ini adalah masalah global. Kita berharap konflik segera usai dan kondisi kembali normal," imbuhnya.
Dampak lonjakan harga ini telah dirasakan langsung oleh pelaku usaha di tingkat lokal. Zubaedah (47), pemilik toko plastik di Sukoharjo, mengungkapkan bahwa kenaikan harga sudah mulai terasa signifikan bahkan sebelum Lebaran 2026. "Sebelum Lebaran, kenaikan harga plastik rata-rata sekitar 30 persen. Setelah Lebaran, melonjak lagi hingga rata-rata 70 persen," paparnya saat dihubungi faseberita.id.
Ia memberikan contoh konkret: plastik merek berkualitas baik yang semula Rp 7.000 per pak kini dibanderol Rp 10.000. Sementara itu, plastik cup untuk ukuran tertentu yang tadinya Rp 8.000 per pak, kini mencapai Rp 13.000.
Artikel ini disusun dengan kontribusi dari Septia Ryanthie.







