faseberita.id – Indeks Harga Saham Gabungan IHSG terperosok dalam pada perdagangan Kamis 24 September 2026 mengakhiri hari di zona merah yang membara. Pasar modal Tanah Air seolah diterpa badai sentimen negatif baik dari dalam maupun luar negeri membuat investor cemas. Penutupan perdagangan mencatat IHSG di level 6.29861 anjlok signifikan 7631 poin atau setara 120 persen dari posisi sebelumnya di 6.37491.
Pergerakan IHSG hari itu dibuka dengan pelemahan di angka 6.36498 sedikit di bawah penutupan sebelumnya. Sempat menyentuh level tertinggi 6.36857 di awal sesi namun tak mampu bertahan. Tekanan jual masif mendorong indeks ke titik terendah harian di 6.28746. Sepanjang hari hanya 198 saham yang berhasil menguat sementara 487 saham lainnya tumbang dan 278 saham stagnan. Pola perdagangan menunjukkan dominasi tekanan jual sejak pagi dengan pembeli baru yang enggan masuk kecuali di area terendah.

Aktivitas transaksi juga mencatat volume yang luar biasa. Berdasarkan data perdagangan sekitar 253 miliar saham atau 253 juta lot berpindah tangan dengan total nilai mencapai Rp969 triliun. Angka ini melonjak sekitar 145 persen dari rata-rata volume harian yang biasanya berkisar 1744 miliar saham menunjukkan adanya pergerakan modal yang sangat besar di tengah gejolak pasar.
Dari ranah domestik keputusan Bank Indonesia BI yang mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 575 persen menjadi sorotan utama. Suku bunga Deposit Facility juga tetap di 475 persen dan Lending Facility di 650 persen. Gubernur BI Destry Damayanti dalam konferensi pers pada Rabu 23 September 2026 menegaskan keputusan tersebut sejalan dengan ekspektasi sebagian besar analis yang disurvei. Ini adalah kali ketiga berturut-turut BI menahan suku bunga setelah serangkaian kenaikan kumulatif 100 basis poin pada Mei-Juni sebelumnya.
Namun badai sesungguhnya datang dari kancah global. Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat US Treasury melonjak tajam pada Rabu 23 September 2026 menembus rekor tertinggi dalam hampir dua dekade. Imbal hasil Treasury 10 tahun melesat 15 basis poin menjadi 511 persen bahkan sempat menyentuh 514 persen. Kenaikan ini dipicu oleh data aktivitas bisnis AS yang kuat serta kekhawatiran inflasi akibat lonjakan harga energi.
Lonjakan imbal hasil ini sangat krusial karena menjadi patokan biaya pinjaman di berbagai sektor ekonomi mulai dari kredit perumahan kendaraan hingga pembiayaan bisnis. Data S&P Global yang menunjukkan pertumbuhan aktivitas bisnis AS tercepat sejak Juli 2021 memperkuat spekulasi bahwa Federal Reserve The Fed masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga demi meredam inflasi. Imbal hasil Treasury 30 tahun dan 2 tahun juga mencatat kenaikan signifikan mencapai level tertinggi sejak 2007 dan 2024. Bagi Indonesia kenaikan ini berpotensi memicu lonjakan imbal hasil Surat Berharga Negara SBN dan menambah beban utang pemerintah.
Selain itu pasar juga mencermati perkembangan lain seperti aturan baru perdagangan saham dan rilis data uang beredar di dalam negeri. Dari luar negeri kunjungan Presiden China Xi Jinping ke Amerika Serikat serta pergerakan indeks dolar AS juga turut menambah daftar faktor yang memengaruhi sentimen investor global dan berpotensi menciptakan gejolak lebih lanjut bagi pasar saham Indonesia.







