faseberita.id – Indeks Harga Saham Gabungan IHSG terpeleset ke zona merah pada penutupan perdagangan jelang akhir pekan anjlok 2127 poin atau 033 persen ke level 6441. Pergerakan indeks sepanjang hari didominasi tekanan jual setelah sempat dibuka di 651257. Level tertinggi harian tercatat 652102 sementara titik terendah menyentuh 641950.
Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan hanya 212 saham yang berhasil menguat sementara 464 saham melemah dan 287 lainnya stagnan. Total volume transaksi mencapai 3172 miliar saham dengan nilai Rp 1924 triliun. Aktivitas pasar secara keseluruhan mencatat 32581 juta lot senilai Rp 1925 triliun dan frekuensi 192 juta kali. Pasar reguler menjadi penyumbang terbesar dengan 29176 juta lot transaksi senilai Rp 173 triliun.

Sektor konsumer primer menjadi penyeret utama IHSG dengan penurunan 127 persen disusul properti yang merosot 12 persen dan kesehatan anjlok 118 persen. Saham-saham pemberat indeks antara lain PT Amman Minerals Tbk AMMN PT Bank Mandiri Persero Tbk BMRI PT Dian Swastika Sentosa Tbk DSSA PT Mora Telematika Indonesia Tbk MORA dan PT Bank Central Asia Tbk BBCA. Di sisi lain beberapa saham seperti PT Bayan Resources Tbk BYAN PT DCI Indonesia Tbk DCII PT Barito Renewables Energy Tbk BREN PT Merdeka Battery Materials Tbk MBMA dan PT Aneka Tambang Persero Tbk ANTM berupaya menahan koreksi lebih dalam.
Sebelumnya IHSG sempat melaju di jalur hijau pada pembukaan pagi hari menguat 076 persen ke 65115. Penguatan ini ditopang oleh saham BYAN yang melesat 1996 persen ke Rp 13835 serta beberapa emiten terafiliasi pengusaha Haji Isam.
Sentimen positif dari eksternal sempat memberi harapan aset berisiko. Harga minyak dan imbal hasil US Treasury yang menurun serta rebound Wall Street pada perdagangan Kamis menjadi pemicu. Bursa saham AS ditutup menguat Dow Jones naik 061 persen S&P 500 menguat 114 persen dan Nasdaq Composite melonjak 169 persen.
Namun bayang-bayang ketidakpastian masih menghantui pasar global. Konflik di Timur Tengah antara Arab Saudi dan kelompok Houthi kembali memanas meningkatkan kekhawatiran pasokan energi. Harga minyak Brent meski terkoreksi sekitar 1 persen masih bertengger di atas US$100 per barel. Lalu lintas kapal di Selat Hormuz juga menurun drastis.
Di Amerika Serikat klaim tunjangan pengangguran yang lebih rendah dari perkiraan menunjukkan pasar tenaga kerja yang kuat kondisi ini bisa memengaruhi arah kebijakan moneter The Fed. Sementara itu Bank of England BoE mempertahankan suku bunga 375 persen meski inflasi Inggris meningkat. Perhatian pasar Asia kini tertuju pada Jepang menanti rilis data inflasi dan keputusan suku bunga Bank of Japan BoJ yang diperkirakan naik 25 basis poin. Keputusan ini berpotensi mengguncang pergerakan yen obligasi Jepang dan arus dana investor global.







