faseberita.id – Pengusaha kakap Andi Syamsuddin Arsyad yang akrab disapa Haji Isam dikabarkan tengah berupaya mencaplok sebagian besar saham PT Bayan Resources Tbk BYAN melalui bendera perusahaannya PT Jhonlin Baratama. Rencana akuisisi sekitar 30 persen kepemilikan saham ini sontak menjadi buah bibir di pasar modal memicu spekulasi tentang harga fantastis yang mungkin ditawarkan.
Berdasarkan informasi yang beredar di publik Low Tuck Kwong dan Elaine Low selaku pemegang saham telah menandatangani Perjanjian Jual Beli Saham Bersyarat pada 16 September 2026 dengan PT Jhonlin Baratama. Kesepakatan ini melibatkan pengalihan sekitar 10 miliar lembar saham biasa BYAN yang setara dengan kurang lebih 30 persen dari total saham beredar perusahaan tambang batu bara tersebut. Namun penting dicatat bahwa transaksi ini belum final dan masih terikat pada pemenuhan sejumlah prasyarat yang telah disepakati kedua belah pihak.

Di tengah hiruk pikuk kabar tersebut kinerja saham BYAN menunjukkan penguatan signifikan pada perdagangan Kamis 17 September 2026. Saham BYAN ditutup perkasa di level Rp11.525 per saham melonjak 1,54 persen atau 175 poin dibandingkan penutupan hari sebelumnya di Rp11.350. Sepanjang hari saham BYAN sempat menyentuh puncak Rp11.800 dan terendah Rp11.200. Dengan harga penutupan tersebut nilai pasar dari 10 miliar saham BYAN yang menjadi objek perjanjian diperkirakan mencapai sekitar Rp115,25 triliun. Angka ini murni perhitungan berdasarkan harga pasar bukan nilai transaksi yang disepakati.
Lalu berapa sebenarnya harga yang ditawarkan Haji Isam untuk menguasai sebagian BYAN? Sebelumnya sempat berembus rumor bahwa Haji Isam pernah mengajukan tawaran senilai 3 miliar dolar AS untuk mengakuisisi sekitar 62 persen saham BYAN. Jika dikonversi dengan asumsi kurs Rp17.700 per dolar AS nilai tersebut setara dengan Rp53,1 triliun.
Dengan asumsi total saham BYAN sebanyak 33,33 miliar lembar harga penawaran dari rumor tersebut secara matematis berada di kisaran Rp2.500 per saham. Artinya jika menggunakan skenario harga penawaran ini 10 miliar saham BYAN akan bernilai sekitar Rp25 triliun. Namun jika alokasi dana Rp53,1 triliun tersebut ditujukan untuk mengakuisisi 30 persen saham BYAN maka harga per sahamnya akan melambung ke kisaran Rp5.300. Perlu ditegaskan angka-angka ini hanyalah simulasi berdasarkan rumor lama sementara harga transaksi sebenarnya masih menjadi misteri dan belum diumumkan secara resmi. Sebagai perbandingan harga pasar BYAN saat ini jauh melampaui harga indikatif dari rumor tersebut.
Manajemen Bayan Resources dalam keterbukaan informasinya menegaskan bahwa transaksi ini masih bersifat bersyarat dan tidak menimbulkan dampak negatif material terhadap operasional hukum kondisi keuangan maupun kelangsungan usaha perseroan. Kini perhatian pasar tertuju pada pengumuman harga transaksi yang sebenarnya jumlah saham final yang akan dialihkan serta terpenuhinya semua persyaratan sebelum kepemilikan saham resmi berpindah tangan. Investor juga akan memantau apakah transaksi ini akan membawa perubahan signifikan pada struktur kepemilikan dan kendali Bayan Resources di masa depan.







