faseberita.id – Badan Pengelola Investasi Daya Anagatha Nusantara (BPI Danantara) tengah bersiap melakukan langkah besar dalam peta ekonomi nasional. Lembaga pengelola investasi ini telah menetapkan target ambisius dengan menyiapkan dana sebesar Rp200 triliun untuk dialokasikan sebagai instrumen investasi pada tahun mendatang. Langkah ini diprediksi akan memberikan dampak signifikan terhadap perputaran modal di berbagai sektor strategis di Indonesia.
Chief Operating Officer (COO) BPI Danantara, Dony Oskaria, mengungkapkan bahwa rencana investasi jumbo tersebut telah disiapkan secara matang. Dana senilai kurang lebih US$12 miliar tersebut akan disalurkan melalui jajaran pimpinan strategis di bawah naungan Danantara untuk memperkuat portofolio investasi negara.

"Investasi Danantara berasal dari dividen yang dihasilkan oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Jadi tahun ini setidaknya kami akan mengalokasikan Rp200 triliun kepada tim manajemen untuk diinvestasikan," ujar Dony dalam sambutannya pada acara Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) yang digelar di Hotel Fairmont, Jakarta Selatan.
Dony menekankan bahwa keberlanjutan operasional dan pertumbuhan Danantara sangat bergantung pada tata kelola BUMN yang sehat. Dividen dari perusahaan-perusahaan plat merah inilah yang menjadi mesin utama atau sumber pendanaan bagi Danantara untuk terus berekspansi. Dengan kata lain, efisiensi dan profitabilitas BUMN akan menjadi kunci utama bagi kekuatan modal lembaga ini di masa depan.
Dalam struktur organisasinya, dana tersebut akan dikelola oleh dua pilar utama melalui anak usahanya. Pertama adalah Danantara Investment Management (DIM) yang dipimpin oleh Pandu Sjahrir, yang secara khusus berfokus pada investasi di sektor komersial. Kedua adalah Danantara Development Management Fund (DDMF) yang dipimpin oleh Sigit Puji Santosa, yang bertugas mengelola pembiayaan untuk berbagai Proyek Strategis Nasional (PSN).
Terkait rincian pembagian dana tersebut, Sigit Puji Santosa menjelaskan bahwa saat ini pihaknya tengah dalam tahap penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) untuk tahun 2027. Meski belum bisa merinci angka pastinya, Sigit memberikan gambaran mengenai arah kebijakan investasi lembaga tersebut.
Ia menyebutkan bahwa porsi investasi untuk sektor komersial diprediksi akan jauh lebih dominan dibandingkan dengan pembiayaan proyek pemerintah. "Porsi saat ini memang lebih besar ke arah komersial, mungkin sekitar 65% hingga 70% yang akan dikelola oleh DIM karena kesiapannya. Sementara untuk proyek strategis jangka panjang akan dikelola oleh DDMF karena memiliki dampak strategis yang sangat besar bagi negara," jelas Sigit.
Dengan adanya suntikan dana sebesar Rp200 triliun ini, Danantara diharapkan mampu menjadi motor penggerak ekonomi yang tidak hanya mengejar keuntungan komersial, tetapi juga mampu mendukung agenda pembangunan infrastruktur dan proyek strategis yang menjadi prioritas pemerintah Indonesia.







