faseberita.id – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. atau BTN kembali menunjukkan ambisinya untuk memperkuat struktur bisnis melalui ekspansi strategis. Setelah sukses melakukan langkah besar sebelumnya, bank pelat merah yang berfokus pada pembiayaan perumahan ini kini tengah bersiap untuk mengakuisisi portofolio kredit konsumer baru, khususnya pada segmen kredit pensiunan.
Langkah ini bukan sekadar rencana di atas kertas. Direktur Utama BTN, Nixon L.P. Napitupulu, mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengambil langkah hukum awal dengan menandatangani Non Disclosure Agreement (NDA) dengan pihak bank calon mitra. Meski identitas bank yang akan menjadi target akuisisi tersebut masih dirahasiakan, kesepakatan ini menandakan bahwa proses penjajakan sudah memasuki tahap yang lebih serius.

"Saya belum bisa menyebutkan nama banknya. Namun, per hari ini, kami sudah menandatangani NDA dengan mereka," ujar Nixon saat ditemui usai mengikuti acara Focus Group Discussion (FGD) bertajuk "Transformasi BTN, Membangun Sinergi Pertumbuhan Bisnis Berkelanjutan" di Bandung, Jawa Barat.
Dengan adanya NDA tersebut, BTN kini memiliki ruang legal untuk melakukan proses due diligence atau uji tuntas. Tim manajemen akan mulai mempelajari secara mendalam kualitas serta profil portofolio kredit milik calon mitra tersebut guna memastikan kesesuaian dengan strategi pertumbuhan jangka panjang perusahaan.
Nixon menjelaskan bahwa rencana akuisisi ini diproyeksikan akan mulai dieksekusi pada tahun depan. Hal ini dikarenakan bank harus mengikuti prosedur tata kelola perusahaan yang ketat, di mana rencana ekspansi besar seperti ini wajib dimasukkan terlebih dahulu ke dalam Rencana Bisnis Bank (RBB). Jika seluruh proses administrasi dan kajian berjalan mulus, BTN menargetkan transaksi ini dapat rampung pada kuartal pertama tahun 2026, tepatnya di sekitar bulan Februari atau Maret.
Strategi menyasar kredit pensiunan ini merupakan langkah berulang yang terbukti efektif bagi BTN. Sebelumnya, BTN telah sukses melakukan akuisisi portofolio kredit milik PT Bank SMBC Indonesia Tbk. (BTPN) dengan nilai transaksi yang sangat fantastis, yakni mencapai Rp19,93 triliun. Melalui langkah serupa, BTN berharap dapat mempertebal pundi-pundi pendapatan bunga mereka.
Lebih lanjut, Nixon menekankan bahwa fokus utama dari aksi korporasi ini adalah mengejar imbal hasil atau yield yang lebih tinggi. BTN tidak ingin sekadar menambah volume kredit, melainkan mencari aset yang mampu memberikan profitabilitas yang optimal bagi perusahaan.
"Intinya, kami mencari portofolio dengan yield yang lebih baik," tegas Nixon.
Langkah agresif ini diharapkan dapat memperkuat posisi BTN dalam pasar kredit konsumer di Indonesia, sekaligus mempercepat transformasi perusahaan menuju pertumbuhan bisnis yang lebih berkelanjutan dan tangguh di tengah dinamika ekonomi nasional. Melansir informasi dari faseberita.id, langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa BTN tengah bertransformasi menjadi pemain yang lebih dominan di sektor pembiayaan konsumer selain sektor perumahan.






