faseberita.id – Nilai tukar rupiah kembali menghadapi ujian berat setelah menembus angka psikologis baru. Berdasarkan data pasar terbaru, mata uang Garuda terpantau mengalami depresiasi yang cukup signifikan hingga menyentuh level Rp18.105 per dolar AS. Lonjakan nilai tukar dolar AS ini memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar mengenai stabilitas ekonomi nasional dalam jangka pendek.
Menanggapi gejolak yang terjadi, Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, memberikan pernyataan tegas terkait posisi bank sentral dalam menghadapi situasi ini. Destry memastikan bahwa Bank Indonesia tidak tinggal diam dan tetap memantau secara ketat setiap pergerakan di pasar valuta asing. Ia menegaskan bahwa kehadiran BI di pasar sangat krusial untuk menjaga agar volatilitas tidak meluas secara tidak terkendali.

Dalam keterangannya pada acara Danantara TIIF 2026 yang berlangsung pada Senin (26/10/2026), Destry menjelaskan bahwa fluktuasi nilai tukar pada dasarnya merupakan fenomena yang dipengaruhi oleh dinamika permintaan dan penawaran (supply and demand) di pasar global maupun domestik. Menurutnya, BI akan terus melakukan pengamatan mendalam untuk mengidentifikasi faktor-faktor fundamental apa saja yang menjadi pemicu utama pelemahan rupiah saat ini.
"Kami tetap hadir di pasar. Pergerakan ini sangat bergantung pada mekanisme supply dan demand. Kami terus memantau setiap perkembangan dan pergerakan yang terjadi," ujar Destry kepada awak media.
Ketika dikonfirmasi mengenai kemungkinan adanya perubahan strategi intervensi untuk meredam tekanan terhadap rupiah, Destry menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada pergeseran kebijakan yang diambil. Ia menilai bahwa volatilitas yang sedang berlangsung masih dalam koridor dinamika pasar yang wajar, meskipun tetap memerlukan kewaspadaan tinggi. Bank Indonesia akan fokus mencari akar permasalahan atau root cause dari pelemahan ini sebelum mengambil langkah kebijakan yang lebih drastis.
"Tidak ada perubahan strategi. Ini adalah volatilitas yang biasa terjadi, namun kami akan terus memantau dan melihat apa penyebab utamanya," tambahnya.
Meskipun belum merinci secara spesifik faktor eksternal atau internal apa yang paling dominan memicu pelemahan rupiah hari ini, Destry menyebutkan bahwa pihaknya akan melakukan evaluasi menyeluruh segera setelah meninjau data terbaru di kantor pusat. Hal ini dikarenakan ia tidak berada di kantor sejak pagi hari sehingga memerlukan waktu untuk melakukan pengecekan data yang lebih komprehensif.
Berdasarkan data dari Refinitiv, pada pukul 10.04 WIB, rupiah tercatat melemah sebesar 0,36% dibandingkan penutupan perdagangan pada Jumat (23/10/2026) yang berada di level Rp18.040 per dolar AS. Situasi ini menempatkan tekanan pada stabilitas pasar keuangan nasional, namun komitmen BI untuk menjaga stabilitas tetap menjadi jangkar utama bagi kepercayaan investor di Indonesia. Melalui pemantauan intensif, BI berharap dapat memitigasi dampak negatif dari penguatan dolar AS terhadap ekonomi domestik.







