faseberita.id – Barisan panjang kendaraan pengangkut barang dan penumpang kini menjadi pemandangan lazim di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum SPBU di Sumatera. Kelangkaan bahan bakar solar bersubsidi memicu kekhawatiran serius di kalangan pelaku usaha dan masyarakat. PT Pertamina Patra Niaga melalui Corporate Secretary Roberth Dumatubun akhirnya angkat bicara menduga akar masalahnya adalah distribusi yang tidak tepat sasaran. Namun sayangnya penjelasan lebih lanjut mengenai penyebab pasti atau langkah konkret pencegahan belum terungkap.
Krisis pasokan solar ini dilaporkan telah berlangsung selama sebulan terakhir di berbagai wilayah Sumatera. Kondisi ini tak hanya mengganggu operasional bus dan truk tetapi juga mulai menghambat kelancaran logistik serta angkutan antarkota antarprovinsi AKAP.

Sekretaris Jenderal Organisasi Angkutan Darat Organda Kurnia Lesani Adnan mengungkapkan laporan kelangkaan ini hampir setiap hari diterima dari berbagai daerah seperti Padang Bukittinggi Jambi Medan Palembang hingga Lampung. Menurut Adnan masalah ini sebenarnya bukan hal baru namun kondisinya semakin memburuk dalam sebulan terakhir. Ia menambahkan bahwa fenomena serupa juga mulai terasa di Kalimantan dan Sulawesi.
Adnan menyoroti sistem barcode MyPertamina sebagai salah satu pemicu. Ia menilai sistem tersebut masih menyimpan banyak celah mulai dari lemahnya pengawasan kuota barcode yang kerap lenyap pemblokiran tanpa alasan jelas respons pusat layanan yang lambat hingga penindakan penyalahgunaan barcode yang belum tegas.
Selain itu Adnan juga memperoleh informasi dari sejumlah pengelola SPBU bahwa pasokan solar yang mereka terima seringkali tidak sesuai dengan jumlah yang diajukan. Sebagai contoh SPBU yang memesan 32 kiloliter hanya menerima sekitar 18 kiloliter dengan jadwal pengiriman yang tidak menentu. Ia menduga kelangkaan lebih sering terjadi di daerah dengan aktivitas pertambangan dan perkebunan skala besar mengindikasikan adanya penyaluran yang tidak semestinya.
Senada dengan Organda Sekretaris Jenderal Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia ALFI Trismawan Sanjaya membenarkan bahwa kelangkaan solar bersubsidi untuk angkutan barang telah menjadi persoalan bertahun-tahun terutama di Kalimantan Sulawesi dan beberapa wilayah Indonesia timur.
Trismawan mengidentifikasi beberapa faktor pemicu. Antara lain dugaan penyalahgunaan solar bersubsidi akibat selisih harga yang signifikan dengan solar nonsubsidi keterbatasan infrastruktur SPBU untuk melayani kendaraan logistik serta sistem distribusi yang belum efisien. Ia juga menambahkan bahwa pesatnya pembangunan kawasan industri dan pusat komersial di Sumatera dan Jawa telah meningkatkan jumlah angkutan barang sehingga kebutuhan BBM pun melonjak.







