faseberita.id – Gempuran terhadap nilai tukar Rupiah kian terasa seiring pergerakannya yang mendekati level krusial 18.000 per dolar Amerika Serikat. Namun di tengah gejolak pasar global akibat kenaikan suku bunga acuan The Fed dan melonjaknya imbal hasil obligasi AS, pasar keuangan Indonesia ternyata masih menyimpan daya pikat yang kuat dibanding negara-negara sejenis.
Menurut Hernaman Tandianto SEVP Head of Treasury Sales & Distribution Bank CIMB Niaga, tekanan terhadap Rupiah pada bulan ini memang signifikan. Pemicunya tak lain adalah kebijakan agresif bank sentral Amerika Serikat serta lonjakan harga minyak dunia yang memicu inflasi global. Faktor-faktor ini turut mendorong arus modal keluar dari pasar domestik.

Meski demikian Bank Indonesia tak tinggal diam. Berbagai strategi stabilisasi telah diluncurkan termasuk diskon swap hedging yang memberikan insentif bagi pelaku pasar. Inisiatif baru juga digulirkan guna memberi keleluasaan lebih bagi investor asing untuk melakukan lindung nilai di pasar domestik.
Sinergi kuat antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia juga menjadi penopang utama. Kolaborasi ini berhasil menumbuhkan optimisme dan kepercayaan di kalangan pelaku pasar terhadap arah kebijakan moneter dan fiskal Indonesia ke depan. Keyakinan inilah yang menjadi benteng pelindung di tengah badai ketidakpastian ekonomi global.
Dengan langkah-langkah proaktif dari otoritas moneter dan fiskal, pasar menanti bagaimana Rupiah akan bergerak dan seberapa tangguh pasar keuangan Indonesia menghadapi tantangan global.







