News  

Waspada Penipuan Investasi Berbasis AI

admin
Waspada Penipuan Investasi Berbasis AI

faseberita.id – Kemajuan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini membawa tantangan baru bagi dunia pasar modal di Indonesia. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengeluarkan peringatan keras kepada seluruh masyarakat agar lebih waspada terhadap modus penipuan investasi yang mulai memanfaatkan teknologi canggih, termasuk teknologi deepfake.

Teknologi deepfake memiliki kemampuan untuk memanipulasi video maupun suara secara sangat realistis. Dalam konteks penipuan, pelaku dapat menciptakan konten palsu yang menampilkan tokoh publik atau profesional keuangan ternama seolah-olah mereka sedang mempromosikan atau merekomendasikan produk investasi tertentu. Hal ini sangat berbahaya karena dapat mengecoh masyarakat yang belum memiliki literasi digital yang mumpuni.

Waspada Penipuan Investasi Berbasis AI
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Kepala Departemen Pengawasan Lembaga Efek OJK, Edi Broto Suwarno, menyampaikan bahwa meskipun digitalisasi mempermudah akses informasi investasi, sisi gelapnya adalah teknologi ini sering disalahgunakan oleh oknum tidak bertanggung jawab. Dalam sebuah acara di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Edi menekankan bahwa kemiripan visual dan suara yang dihasilkan AI dapat membuat masyarakat percaya begitu saja pada rekomendasi investasi yang sebenarnya palsu.

Selain ancaman deepfake, OJK juga menyoroti maraknya penggunaan identitas lembaga keuangan resmi oleh oknum penipu. Modus yang sering digunakan adalah menawarkan investasi dengan janji keuntungan tinggi yang tidak masuk akal tanpa risiko. Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk selalu menerapkan prinsip "Legal dan Logis" dalam setiap keputusan finansial. Artinya, pastikan lembaga tersebut memiliki izin resmi dan masuk akal secara logika keuntungan yang ditawarkan.

Masyarakat diingatkan untuk tidak mudah tergiur oleh tren di media sosial atau fenomena Fear of Missing Out (FOMO). Mengambil keputusan investasi hanya karena mengikuti kerumunan atau rasa takut tertinggal tren sangat berisiko bagi kesehatan finansial. Edi menekankan bahwa menjadi investor cerdas tidak menuntut seseorang untuk menjadi ahli keuangan, namun wajib memiliki pengetahuan dasar agar mampu mengambil keputusan secara mandiri.

Ada tiga langkah preventif yang disarankan OJK sebelum melakukan transaksi: pertama, verifikasi informasi sebelum mempercayainya; kedua, pahami produk sebelum menanamkan modal; dan ketiga, pastikan kebenaran tujuan transaksi sebelum mentransfer uang. Selain itu, perlindungan data pribadi seperti PIN, kata sandi, dan kode OTP harus dijaga ketat karena merupakan kunci utama keamanan akun investasi.

Terakhir, OJK mengingatkan bahwa investasi adalah proses jangka panjang untuk membangun kesejahteraan, bukan cara instan untuk menjadi kaya. Investor yang tangguh adalah mereka yang mampu mengelola emosi, disiplin dalam menghadapi dinamika pasar, serta siap menghadapi risiko melalui diversifikasi portofolio dan penyediaan dana darurat.

Ikuti Kami di Google News:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *