faseberita.id – Pesatnya perkembangan teknologi digital membawa dampak ganda bagi dunia pasar modal Indonesia. Di satu sisi, akses masyarakat untuk berinvestasi menjadi jauh lebih mudah dan cepat melalui ponsel pintar. Namun di sisi lain, kemudahan ini membuka celah lebar bagi para pelaku kejahatan untuk melancarkan aksi penipuan melalui modus investasi bodong yang semakin canggih.
Menanggapi fenomena yang mengkhawatirkan ini, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengeluarkan peringatan keras kepada seluruh lapisan masyarakat, terutama para investor pemula. Peringatan ini disampaikan dalam rangkaian acara Ring the Bell for Financial Literacy 2026, yang merupakan bagian dari kampanye global World Investor Week. Tahun ini, kampanye tersebut mengusung pesan mendalam: Invest in your future, protect it today.

Direktur Keuangan, Sumber Daya Manusia, dan Umum BEI, Umi Kulsum, menekankan bahwa tantangan terbesar investor di era digital adalah kemampuan untuk menyaring informasi. Menurutnya, ketahanan seorang investor tidak hanya diukur dari seberapa besar keuntungan yang didapat, tetapi juga seberapa waspada mereka terhadap potensi penipuan.
"Investor yang cerdas adalah mereka yang selalu melakukan verifikasi terhadap setiap informasi yang diterima. Jangan langsung menelan mentah-mentah apa yang terlihat di layar ponsel. Menjaga keamanan data pribadi juga menjadi kunci krusial di tengah masifnya dunia digital saat ini," tegas Umi Kulsum saat memberikan sambutan di Main Hall BEI, Jakarta, Rabu (14/10/2026).
Data menunjukkan bahwa saat ini jumlah investor di pasar modal Indonesia telah menembus angka lebih dari 32 juta orang. Ironisnya, mayoritas dari kelompok ini didominasi oleh generasi muda yang sangat akrab dengan teknologi. Meskipun mereka sangat mahir menggunakan platform digital, kelompok ini dinilai memiliki kerentanan tinggi terhadap paparan informasi palsu atau hoax yang menjanjikan keuntungan tidak masuk akal dalam waktu singkat.
Untuk membentengi diri, BEI merumuskan sebuah prinsip utama bagi investor, yakni Stay Smart, Stay Alert, and Stay Resilient. Artinya, investor dituntut untuk tetap cerdas dalam memahami produk keuangan yang dibeli, tetap waspada terhadap tawaran yang mencurigakan, dan tetap disiplin dalam menjalankan strategi investasi jangka panjang tanpa tergiur skema cepat kaya.
Sebagai langkah konkret, BEI tidak bergerak sendirian. Mereka bersinergi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Self-Regulatory Organizations (SRO), serta para Anggota Bursa untuk memperluas jangkauan edukasi literasi keuangan hingga ke pelosok daerah di Indonesia. Tujuannya jelas, agar masyarakat tidak hanya sekadar tahu cara membeli saham, tetapi juga paham cara melindungi aset mereka.
Acara ini juga dimeriahkan dengan diskusi interaktif bersama perencana keuangan ternama, Prita Ghozie, serta sejumlah konten kreator finansial. Melalui diskusi tersebut, diharapkan para peserta mendapatkan bekal praktis yang dapat langsung diterapkan serta dibagikan kepada keluarga dan kerabat guna memutus rantai korban investasi ilegal.
Perlu diketahui bahwa kegiatan World Investor Week ini merupakan gerakan global yang diinisiasi oleh International Organization of Securities Commissions (IOSCO) sejak tahun 2017. Di seluruh dunia, sebanyak 62 bursa efek turut menggelar rangkaian acara serupa untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya perlindungan investor.







