faseberita.id – Mata uang Garuda kembali tak berdaya menghadapi dominasi dolar Amerika Serikat pada penutupan perdagangan Kamis. Nilai tukar rupiah tergelincir 19 poin atau 0,11 persen, mengakhiri hari di level Rp 17.936 per dolar AS, setelah sebelumnya sempat bertengger di Rp 17.917. Apa sebenarnya yang memicu kemerosotan ini?
Menurut Tiffani Safinia, seorang pakar dari Research & Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX), tekanan utama datang dari sentimen global. Dolar AS menunjukkan kekuatannya yang luar biasa, didorong oleh ekspektasi pasar bahwa Bank Sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi untuk jangka waktu yang lebih panjang.

Analisis ICDX menunjukkan bahwa para pelaku pasar masih memperkirakan adanya setidaknya satu kali kenaikan suku bunga acuan The Fed hingga akhir tahun ini. Kendati demikian, The Fed diperkirakan akan menahan suku bunga pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pekan depan, sembari terus memantau perkembangan inflasi dan kondisi perekonomian global. Kondisi ini secara otomatis mengarahkan aliran modal global untuk lebih memilih aset-aset berbasis dolar, sehingga menekan mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah.
Dari kacamata domestik, keputusan Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan BI-Rate di angka 5,75 persen adalah langkah strategis untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan mengendalikan inflasi. Namun, upaya penguatan rupiah masih menghadapi tantangan. Tiffani menjelaskan bahwa perbedaan suku bunga antara Indonesia dan AS belum cukup menarik bagi arus modal asing untuk masuk secara signifikan. Ditambah lagi, permintaan valuta asing di dalam negeri yang masih tinggi turut membatasi ruang gerak rupiah.
Indeks Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga mencerminkan pelemahan ini, dengan rupiah ditutup di level Rp 17.919 per dolar AS, turun dari posisi sebelumnya di Rp 17.909 per dolar AS. Situasi ini menyoroti kompleksitas tantangan ekonomi yang dihadapi rupiah di tengah gejolak pasar global.

