faseberita.id – Dinamika pasar modal yang penuh ketidakpastian menuntut para pengelola dana untuk memiliki ketajaman dalam membaca arah pergerakan pasar. Di tengah fluktuasi ekonomi global dan domestik yang kerap membuat investor ragu, strategi pengelolaan portofolio yang presisi menjadi kunci utama untuk menjaga pertumbuhan aset tetap optimal.
Menanggapi tantangan tersebut, PT Henan Putihrai Asset Management membagikan pandangan strategis mengenai cara mereka menavigasi kompleksitas pasar. Bagus Adi Yoga Prawira, selaku Chief Liaison Officer Head of Investment Solution dari Investment Services Group Henan Asset, mengungkapkan bahwa kunci keberhasilan investasi terletak pada kemampuan membedakan antara informasi yang relevan dan sekadar kebisingan pasar.

Dalam paparannya pada acara Road to CNBC Awards 2025, Bagus menjelaskan bahwa terdapat tiga prinsip utama yang harus dipahami oleh setiap pelaku pasar: sound, noise, dan signal. Ketiga elemen ini merupakan fondasi dalam menyaring berbagai faktor, mulai dari sentimen fundamental, valuasi, likuiditas, hingga kondisi makroekonomi baik di tingkat global maupun domestik.
Menurut Bagus, pasar modal sering kali terlihat sangat rumit karena banyaknya variabel yang masuk secara bersamaan. Banyak investor terjebak dalam noise atau kebisingan pasar—yaitu informasi yang tampak penting namun sebenarnya tidak memiliki dampak jangka panjang terhadap nilai aset. Oleh karena itu, fokus utama saat ini harus diarahkan pada prinsip signal.
Salah satu sinyal terpenting yang perlu diperhatikan adalah pergerakan likuiditas. Bagus menekankan bahwa likuiditas bukan sekadar ketersediaan dana, melainkan bagaimana aliran dana tersebut berpindah dari satu kelas aset ke aset lainnya, serta bagaimana aliran tersebut bergerak dari pasar keuangan menuju investor. Pergerakan likuiditas inilah yang nantinya akan menentukan kondisi pasar secara keseluruhan dan arah kebijakan makro.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa setiap fase pasar memiliki "rezim" yang berbeda-beda. Ada masa di mana pasar berada dalam fase pemulihan (recovery), fase pertumbuhan (crease on), fase akhir siklus (late cycle), hingga fase divergensi. Setiap rezim ini memerlukan pendekatan yang sangat berbeda dalam mengelola portofolio nasabah.
Strategi Henan Asset tidak hanya terpaku pada penentuan alokasi aset, seperti berapa persen dana yang harus ditempatkan pada instrumen ekuitas atau obligasi. Lebih dari itu, mereka sangat memperhatikan aspek deployment atau bagaimana dana tunai tersebut dikerahkan ke pasar.
"Kami memiliki pandangan top-down yang terstruktur. Kami memulai dengan melihat gambaran besar dari sisi global dan makro, kemudian baru masuk ke analisis fundamental, hingga akhirnya mengerucut pada kondisi domestik," tegas Bagus. Dengan pendekatan sistematis ini, diharapkan pengelolaan investasi dapat lebih adaptif terhadap perubahan rezim pasar yang terjadi secara tiba-tiba.







