faseberita.id – Ketidakpastian geopolitik yang terus membayangi panggung dunia kini menjadi tantangan serius bagi stabilitas ekonomi berbagai negara, tidak terkecuali Indonesia. Gejolak yang terjadi di kawasan Timur Tengah telah memicu efek domino yang cukup mengkhawatirkan, mulai dari gangguan pada rantai pasok global hingga lonjakan inflasi di berbagai belahan dunia, termasuk Amerika Serikat.
Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, mengungkapkan bahwa situasi global saat ini sedang berada dalam fase yang penuh tekanan. Kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury yang dibarengi dengan penguatan indeks dolar AS telah menciptakan tekanan hebat bagi mata uang negara-negara berkembang (emerging markets). Fenomena ini memaksa para investor global untuk bersikap lebih berhati-hati, yang pada akhirnya berdampak langsung pada aliran modal keluar atau capital outflow dari pasar domestik.

Kondisi ekonomi Amerika Serikat yang cenderung menerapkan kebijakan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama atau dikenal dengan istilah higher for longer, menjadi salah satu pemicu utama ketidakstabilan ini. Tekanan tersebut secara nyata dirasakan oleh pasar keuangan Indonesia, di mana nilai tukar Rupiah mengalami tekanan akibat derasnya arus modal yang keluar dari pasar lokal menuju pasar Amerika Serikat yang dianggap lebih aman.
Meski menghadapi tekanan eksternal yang begitu kuat, Destry Damayanti menegaskan bahwa kondisi fundamental ekonomi Indonesia sebenarnya masih berada dalam posisi yang sangat kokoh. Kekuatan ekonomi nasional tercermin dari angka pertumbuhan ekonomi yang tetap terjaga secara konsisten. Selain itu, tingkat inflasi di dalam negeri juga masih mampu dikendalikan dengan baik dan tetap berada dalam rentang target proyeksi yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia.
Sebagai langkah antisipasi terhadap potensi volatilitas yang lebih tinggi, Bank Indonesia menyatakan kesiapannya untuk melakukan tindakan cepat dan terukur. BI berkomitmen untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupia melalui serangkaian intervensi pasar yang strategis. Langkah ini dilakukan tidak hanya di pasar spot, tetapi juga melalui instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) serta pasar Non-Deliverable Forward (NDF).
Intervensi ini bertujuan untuk memastikan bahwa fluktuasi nilai tukar tidak bergerak secara liar atau ekstrem, sehingga dapat memberikan rasa aman bagi pelaku pasar dan menjaga stabilitas makroekonomi nasional. BI akan terus memantau perkembangan situasi geopolitik dan data ekonomi global secara intensif guna menentukan arah kebijakan moneter yang paling tepat.
Melalui langkah proaktif ini, Bank Indonesia berupaya memitigasi dampak negatif dari ketidakpastian global agar tidak mengganggu momentum pemulihan ekonomi nasional. Fokus utama saat ini adalah memastikan bahwa meskipun dunia sedang dilanda gejolak, stabilitas nilai tukar dan daya beli masyarakat tetap terjaga demi keberlangsungan pertumbuhan ekonomi jangka panjang.







