News  

Sistem Rem Stabil: Kunci Selamatkan Ribuan Jiwa di Jalan Raya

admin
Sistem Rem Stabil: Kunci Selamatkan Ribuan Jiwa di Jalan Raya

faseberita.id, Jakarta – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menegaskan komitmennya untuk mengadopsi teknologi keselamatan kendaraan guna meningkatkan perlindungan pengguna jalan dan menekan angka kecelakaan di Indonesia, terutama yang melibatkan sepeda motor. Dukungan ini muncul seiring hasil studi Pusat Pengujian, Pengukuran, Pelatihan, Observasi, dan Layanan Rekayasa Universitas Indonesia (POLAR UI) yang menunjukkan potensi penyelamatan hingga 8.000 jiwa per tahun melalui sistem pengereman yang lebih stabil.

Direktur Sarana dan Keselamatan Transportasi Jalan Ditjen Perhubungan Darat Kemenhub, Yusuf Nugroho, dalam sebuah diskusi bertajuk ‘Pendalaman Substansi Pilar Kendaraan Berkeselamatan pada Kendaraan Kecil’ di Jakarta, Sabtu (12/4/2026), menyatakan bahwa pemerintah mendukung penuh inovasi teknologi yang menunjang keselamatan berkendara. "Namun, teknologi tersebut harus adaptif dengan perkembangan yang ada," ujarnya, seperti dikutip Antara.

Sistem Rem Stabil: Kunci Selamatkan Ribuan Jiwa di Jalan Raya
Gambar Istimewa : statik.tempo.co

Yusuf menggarisbawahi peran krusial fitur keselamatan kendaraan dalam memitigasi kesalahan manusia, khususnya pada sepeda motor dan kendaraan kecil yang mendominasi lalu lintas. Ia mengakui bahwa kerangka regulasi dan kebijakan yang ada saat ini masih memerlukan terjemahan ke dalam standar yang lebih konkret agar implementasinya dapat berjalan optimal. Penguatan standar ini, menurutnya, sangat penting mengingat berbagai riset menunjukkan intervensi pada aspek kendaraan mampu memberikan dampak signifikan terhadap keselamatan.

Studi POLAR UI yang disebutkan Yusuf, secara spesifik menyoroti bahwa peningkatan stabilitas sistem pengereman memiliki potensi besar untuk menyelamatkan ribuan nyawa setiap tahunnya. Berbeda dengan beberapa negara di kawasan ASEAN dan India yang telah mengadopsi teknologi keselamatan sepeda motor sebagai standar minimum, Indonesia masih dalam tahap pengembangan, padahal urgensi penerapannya semakin mendesak mengingat tingginya angka kecelakaan.

Ironi Kecelakaan dan Kebutuhan Pendekatan Sistemik

Ketua Dewan Pengawas Road Safety Association (RSA) Indonesia, Rio Octaviano, mengungkapkan data yang memprihatinkan: setiap jam, dua hingga tiga orang meninggal di jalan raya, dengan mayoritas adalah pengendara sepeda motor. Fakta ini, menurutnya, menuntut intervensi serius dan segera.

Rio menyoroti ironi di balik banyak kecelakaan yang terjadi saat kondisi jalan justru dianggap aman, seperti jalan lurus, cuaca cerah, dan visibilitas baik. Kondisi ini, alih-alih aman, justru kerap meningkatkan rasa percaya diri berlebih pada pengendara. "Ini memperlihatkan bahwa kecelakaan bukan semata akibat kelalaian individu, melainkan mencerminkan sistem keselamatan yang belum bekerja optimal dalam mengantisipasi risiko secara menyeluruh di lapangan," jelas Rio.

Ia menambahkan, Indonesia sebenarnya telah memiliki kerangka lima pilar keselamatan jalan dalam Rencana Umum Nasional Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Namun, implementasinya belum seimbang, terutama pada pilar teknologi kendaraan yang belum berjalan optimal jika dibandingkan dengan pilar edukasi. Oleh karena itu, penguatan aspek kendaraan dinilai menjadi kebutuhan mendesak untuk menekan fatalitas, bukan sebagai pengganti pilar lain, melainkan sebagai pelengkap sistem keselamatan guna melindungi pengguna jalan secara lebih efektif.

Rio juga menekankan pentingnya pendekatan sistemik, serupa dengan yang diterapkan di sektor penerbangan dan perkeretaapian, di mana setiap insiden memicu evaluasi menyeluruh. Hal ini sangat relevan untuk kendaraan roda dua yang berkontribusi besar terhadap angka kematian. "Di tingkat global, kecelakaan bukan lagi sekadar accident, melainkan road crash yang bisa dicegah. Namun di Indonesia masih dipersepsikan sebagai sesuatu yang tidak terhindarkan. Karena itu, penguatan kendaraan berkeselamatan harus dilihat sebagai upaya melindungi, bukan membebani," tegas Rio.

Teknologi sebagai Solusi Nyata

Praktisi keselamatan jalan dari ASEAN NCAP, Adrianto Sugiarto, turut menyoroti bahwa 46 persen kecelakaan di Asia Tenggara melibatkan sepeda motor. Dengan hampir 40 persen populasi ASEAN, Indonesia menjadi kontributor terbesar dalam angka tersebut.

"Mengubah perilaku ratusan juta masyarakat membutuhkan waktu panjang. Sementara itu, nyawa terus melayang di jalan setiap hari. Dalam kondisi ini, teknologi menjadi salah satu langkah relevan untuk menekan fatalitas korban," pungkas Adrianto, menegaskan urgensi adopsi teknologi keselamatan sebagai solusi nyata di tengah tantangan keselamatan jalan yang kompleks.

Ikuti Kami di Google News:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *