faseberita.id – Emiten jasa konstruksi PT Paramita Bangun Sarana Tbk (PBSA) secara resmi mengumumkan langkah strategis besar untuk mengubah struktur permodalan mereka. Melalui mekanisme pemecahan saham atau stock split, perusahaan berencana menurunkan nilai nominal sahamnya agar lebih terjangkau oleh masyarakat luas.
Keputusan penting ini telah disepakati dalam agenda Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang diselenggarakan pada 18 September 2026 lalu. Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya perusahaan untuk memperkuat posisi mereka di pasar modal Indonesia.

Berdasarkan keterbukaan informasi yang dirilis melalui Bursa Efek Indonesia (BEI), PBSA akan menerapkan rasio pemecahan saham sebesar 1:2. Artinya, setiap satu lembar saham lama yang dimiliki investor akan dipecah menjadi dua lembar saham baru. Dampak langsung dari aksi korporasi ini adalah penurunan nilai nominal saham, yang semula berada di angka Rp50 per lembar menjadi hanya Rp25 per lembar.
Manajemen perusahaan menjelaskan bahwa kebijakan ini bukan tanpa alasan. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan keterjangkauan harga saham bagi para investor, terutama investor ritel. Dengan harga yang lebih rendah, diharapkan minat beli masyarakat terhadap saham PBSA akan meningkat, yang pada akhirnya akan mendorong likuiditas perdagangan saham perseroan di bursa.
"Rencana stock split ini dipertimbangkan sebagai salah satu langkah Perseroan untuk meningkatkan keterjangkauan harga saham bagi investor serta mendukung peningkatan likuiditas perdagangan saham Perseroan di Bursa Efek Indonesia," tulis pihak manajemen dalam pernyataan resminya, dikutip pada Jumat (10/10/2026).
Secara teknis, meskipun jumlah lembar saham yang ditempatkan dan disetor melonjak dari 3 miliar lembar menjadi 6 miliar lembar, total modal ditempatkan dan disetor perusahaan tetap stabil di angka Rp150 miliar. Hal yang sama juga berlaku pada modal dasar yang tetap berada di angka Rp480 miliar. Perubahan ini murni hanya menyasar pada jumlah lembar dan nilai nominal per lembar saham, tanpa mengubah total nilai modal yang dimiliki perusahaan.
Bagi para investor yang ingin mengikuti perkembangan transisi ini, perlu dicatat jadwal pentingnya. Perdagangan saham dengan nilai nominal lama di pasar reguler maupun pasar negosiasi dijadwalkan berakhir pada 13 Oktober 2026. Sehari setelahnya, tepatnya pada 14 Oktober 2026, perdagangan dengan nilai nominal baru akan mulai diberlakukan.
Proses penyelesaian saham lama akan berakhir pada 15 Oktober 2026, yang juga menjadi tanggal penentuan (recording date) bagi pemegang rekening yang berhak menerima hasil pemecahan saham. Sementara itu, perdagangan saham dengan nominal baru di pasar tunai akan dimulai pada 16 Oktober 2026.
Bagi investor yang menyimpan sahamnya melalui penitipan kolektif di KSEI, proses ini akan berjalan otomatis. Distribusi saham hasil pemecahan akan masuk ke subrekening efek masing-masing investor pada 16 Oktober 2026 berdasarkan saldo saham per tanggal 15 Oktober 2026.







