News  

Rupiah Tertekan Gejolak Global dan Perang

admin
Rupiah Tertekan Gejolak Global dan Perang

faseberita.id – Kondisi pasar keuangan di Indonesia saat ini tengah berada dalam situasi yang cukup menantang. Berbagai tekanan dari faktor eksternal maupun domestik secara bersamaan mulai mengguncang stabilitas nilai tukar Rupiah serta instrumen investasi lainnya seperti pasar saham dan obligasi. Ketidakpastian ekonomi global yang dipicu oleh tensi geopolitik di Timur Tengah serta fluktuasi harga komoditas menjadi faktor utama yang membuat investor bersikap sangat berhati-hati.

Berdasarkan pantauan pasar pada perdagangan Senin (05/10), meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat menunjukkan tanda-tanda penguatan di awal sesi, namun indeks masih tertahan di level 6.063. Kondisi ini sejalan dengan pelemahan nilai tukar Rupiah yang terpantau berada di posisi Rp 17.850 per Dolar AS. Pelemahan ini mencerminkan adanya sentimen negatif yang masih mendominasi psikologi pasar, baik di dalam negeri maupun di kancah internasional.

Rupiah Tertekan Gejolak Global dan Perang
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Ekonom dari CNBC Indonesia, Maesaroh, menjelaskan bahwa Rupiah saat ini sedang terjepit di antara dua tekanan besar. Di satu sisi, terdapat faktor eksternal berupa kebijakan suku bunga tinggi yang diterapkan oleh bank-bank sentral dunia sebagai respons terhadap inflasi global yang belum sepenuhnya terkendali. Di sisi lain, eskalasi konflik atau perang di berbagai wilayah dunia turut memperburuk volatilitas harga minyak bumi, yang secara langsung berdampak pada beban ekonomi negara.

Tidak hanya faktor luar, kondisi fundamental ekonomi domestik juga memberikan tekanan tambahan. Maesaroh menyoroti bahwa posisi neraca perdagangan Indonesia saat ini tidak lagi sekuat periode-periode sebelumnya. Selain itu, terdapat kekhawatiran mengenai defisit transaksi berjalan yang diprediksi akan mengalami kenaikan pada tahun 2026 mendatang. Kombinasi antara melemahnya daya saing ekspor dan meningkatnya defisit ini membuat pelemahan nilai tukar Rupiah seolah menjadi sesuatu yang sulit untuk dihindari dalam jangka pendek.

Dampak dari pelemahan Rupiah ini tentu tidak bisa dianggap remeh, terutama bagi sektor dunia usaha. Ketika nilai tukar merosot tajam, biaya impor bahan baku akan melonjak, yang pada akhirnya dapat memicu kenaikan harga jual di tingkat konsumen atau inflasi domestik. Namun, yang menjadi perhatian utama para ahli bukanlah sekadar angka pelemahannya, melainkan besaran volatilitas atau fluktuasi yang terjadi. Pergerakan nilai tukar yang terlalu liar dan tidak terprediksi akan menciptakan ketidakpastian bagi para pelaku bisnis dalam merencanakan investasi dan operasional mereka.

Menghadapi situasi yang penuh ketidakpastian ini, para pelaku pasar diharapkan tetap waspada terhadap dinamika geopolitik yang berkembang. Ketegangan di Timur Tengah tetap menjadi variabel kunci yang dapat mengubah arah pergerakan ekonomi dunia dalam waktu singkat. Oleh karena itu, pemantauan terhadap kebijakan suku bunga global dan stabilitas harga energi menjadi sangat krusial untuk memitigasi risiko kerugian di masa mendatang. Melansir laporan dari faseberita.id, stabilitas ekonomi nasional akan sangat bergantung pada bagaimana pemerintah dan otoritas moneter merespons tekanan ganda ini.

Ikuti Kami di Google News:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *