faseberita.id – Mata uang Garuda menunjukkan taringnya di pasar keuangan global dengan mencatatkan penguatan tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (7/10/2026). Meski pergerakannya tidak terlalu agresif, tren positif ini menjadi kabar baik bagi stabilitas ekonomi domestik karena berhasil memperpanjang catatan apresiasi yang telah dimulai sejak hari sebelumnya.
Berdasarkan data terbaru dari Refinitiv, rupiah resmi ditutup pada level Rp17.875 per dolar AS. Angka ini menunjukkan kenaikan sebesar 0,08 persen jika dibandingkan dengan posisi penutupan pada Selasa (6/10/2026) yang berada di level Rp17.890 per dolar AS. Menariknya, sejak pembukaan pasar, rupiah sempat menunjukkan performa yang sangat perkasa dengan menyentuh level Rp17.820 per dolar AS sebelum akhirnya mengalami sedikit koreksi di akhir sesi perdagangan.

Di sisi lain, tekanan dari mata uang hijau atau dolar AS sebenarnya masih terasa cukup kuat. Indeks dolar (DXY), yang menjadi barometer kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau naik 0,35 persen ke posisi 102,186 pada sore hari. Hal ini menunjukkan bahwa meski rupiah mampu bertahan, tantangan dari kekuatan dolar global tetap menjadi ancaman yang nyata bagi mata uang negara kepulauan ini.
Kondisi cadangan devisa Indonesia juga menjadi sorotan utama dalam pergerakan pasar kali ini. Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa posisi cadangan devisa nasional pada akhir September 2026 tercatat sebesar US$146,3 miliar. Jika dibandingkan dengan posisi akhir Agustus yang mencapai US$146,5 miliar, terdapat sedikit penurunan sebesar US$200 juta.
Penurunan tipis ini dijelaskan oleh pihak otoritas sebagai dampak dari penarikan pinjaman luar negeri pemerintah serta pemenuhan kewajiban pembayaran utang luar negeri yang telah jatuh tempo. Selain itu, BI juga aktif menjalankan kebijakan stabilisasi nilai tukar guna meredam gejolak pasar keuangan global yang masih penuh ketidakpastian. Meski ada penurunan, BI menegaskan bahwa cadangan devisa tersebut masih sangat kuat, yakni setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor, jauh di atas standar kecukupan internasional yang hanya mensyaratkan tiga bulan impor.
Selain faktor domestik, pasar global juga tengah menanti rilis risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) bulan September. Investor sangat menantikan dokumen tersebut untuk membaca arah kebijakan suku bunga The Fed ke depan. Di saat yang sama, kenaikan harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik di Teluk Meksiko dan serangan di kawasan Timur Tengah turut menambah beban tekanan pada pasar keuangan global. Melansir laporan pasar, harga minyak Brent dan WTI mengalami kenaikan yang dapat memicu inflasi dan mempengaruhi volatilitas nilai tukar di masa mendatang.







