faseberita.id – Kebutuhan energi listrik di Indonesia diprediksi akan mengalami lonjakan yang sangat tajam dalam beberapa dekade mendatang. Menanggapi tantangan besar tersebut, PT PLN (Persero) telah menyiapkan langkah strategis guna memastikan pasokan energi tetap stabil dan mampu memenuhi permintaan masyarakat yang terus tumbuh secara eksponensial.
EVP Manajemen Aset dan Sistem Manajemen Terintegrasi PT PLN (Persero), Tri Hardimasyar, menegaskan bahwa perusahaan pelat merah ini berkomitmen penuh untuk menjaga ketahanan energi nasional. Salah satu pilar utama dalam strategi jangka panjang PLN adalah melakukan transisi energi melalui pengembangan energi surya secara masif.

"Kami sedang menjalankan langkah pengembangan energi surya dengan target mencapai 100 GWp secara bertahap," ungkap Tri Hardimasyar dalam forum internasional bertajuk Indonesia International Sustainability Forum 2026. Ia menjelaskan bahwa pada tahap awal, fokus utama adalah mengurangi ketergantungan pada bahan bakar diesel, terutama di daerah-daerah yang belum terjangkau oleh jaringan listrik konvensional. Upaya ini akan diwujudkan melalui optimalisasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap maupun PLTS terapung.
Proyeksi lonjakan kebutuhan ini bukan tanpa alasan. Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Tenggara Strategics bersama Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia, total konsumsi listrik nasional diperkirakan akan melonjak drastis dari angka 539 TWh pada tahun 2025 menjadi 1,813 TWh pada tahun 2060.
Menariknya, sektor rumah tangga diprediksi akan menjadi penyumbang terbesar, yakni sekitar 28% dari total permintaan. Hal ini dipicu oleh rencana besar pemerintah dalam melakukan konversi energi, salah satunya adalah peralihan penggunaan kompor LPG ke kompor induksi atau kompor listrik.
Direktur Eksekutif CSIS Indonesia, Yose Rizal Damuri, menjelaskan bahwa program konversi kompor ini akan memberikan dampak signifikan terhadap beban listrik nasional. Jika program ini dijalankan secara menyeluruh, potensi permintaan listrik baru bisa mencapai angka 27,62 GW hingga 53,43 GW, tergantung pada tingkat efisiensi perangkat yang digunakan masyarakat.
"Program konversi ini secara tidak langsung akan menciptakan kebutuhan baru untuk pengembangan energi surya sebesar 100 GWp," tambah Yose.
Langkah beralih ke kompor listrik ini juga dipandang sebagai solusi ekonomi yang cerdas. Saat ini, sekitar 41,46% konsumsi energi rumah tangga masih bergantung pada LPG, di mana 77,6% kebutuhannya harus dipenuhi melalui impor. Dengan beralih ke listrik, Indonesia tidak hanya bisa menghemat devisa negara, tetapi juga menekan beban subsidi energi yang selama ini cukup berat.
Selain sektor rumah tangga, tren kendaraan listrik (EV) juga menjadi motor penggerak permintaan listrik baru. Adopsi kendaraan listrik dianggap sebagai kunci dekarbonisasi sekaligus upaya mengurangi ketergantungan pada impor BBM. Data menunjukkan bahwa pada tahun 2025, sekitar 65% konsumsi bensin nasional masih berasal dari impor. Dengan menambah satu juta unit kendaraan listrik di jalanan, Indonesia diperkirakan mampu menghemat konsumsi bensin hingga 1.250 kiloliter per tahun. Melalui sinergi antara pengembangan energi terbarukan dan elektrifikasi massal, Indonesia optimis dapat menghadapi tantangan energi masa depan.







