faseberita.id – Indonesia kini tengah berada di ambang peluang emas untuk mengubah wajah ekonominya melalui pemanfaatan sektor kelautan yang berkelanjutan. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, potensi ekonomi biru atau blue economy milik tanah air dinilai sangat masif dan mampu menempatkan Indonesia sebagai pemain kunci dalam peta pertumbuhan ekonomi hijau global.
Namun, potensi besar yang terbentang di lautan luas ini tidak akan bisa tergarap secara maksimal tanpa adanya dukungan pendanaan yang kuat dan terstruktur. Standard Chartered Indonesia menyoroti bahwa kunci utama untuk membuka gerbang kesejahteraan dari sektor maritim ini terletak pada sinergi yang solid antara kebijakan pemerintah dan keterlibatan aktif sektor swasta.

Managing Director, Head of Coverage Standard Chartered Indonesia, Amit Verma, menyatakan bahwa posisi geografis Indonesia yang sangat strategis memberikan keunggulan kompetitif untuk memimpin pasar ekonomi biru dunia. Meski demikian, ia menekankan bahwa tantangan nyata terletak pada bagaimana mengonversi kekayaan alam tersebut menjadi pertumbuhan ekonomi yang tetap menjaga kelestarian ekosistem.
"Untuk mewujudkan potensi tersebut, kita memerlukan inovasi dalam skema pembiayaan, kemitraan yang kokoh antara pemerintah dan sektor swasta, serta investasi yang terfokus pada rantai nilai yang berkelanjutan," ujar Verma saat memberikan paparan dalam ajang International Sustainability Forum (IISF) 2026 di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Menurutnya, kolaborasi lintas sektor dan inovasi industri menjadi motor penggerak untuk menarik minat investor global. Jika ekosistem pembiayaan ini terbentuk, investasi tidak hanya akan masuk ke sektor industri besar, tetapi juga mampu membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat pesisir, sehingga menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
Senada dengan hal tersebut, Meizani Irmadhiany selaku Senior Vice President dan Executive Chair Konservasi Indonesia, memberikan catatan penting mengenai aspek keberlanjutan. Ia menegaskan bahwa setiap rupiah yang mengalir ke sektor kelautan harus memiliki dampak ekologis yang terukur. Baginya, ekonomi biru bukanlah sekadar eksploitasi sumber daya laut, melainkan keseimbangan antara keuntungan finansial dan kesehatan laut.
"Ekonomi biru Indonesia hanya akan tumbuh secara sehat jika upaya konservasi dan skema pembiayaan berjalan beriringan," tegas Meizani. Ia mencontohkan sektor akuakultur, khususnya budidaya rumput laut, sebagai salah satu bidang yang sangat membutuhkan dukungan pembiayaan khusus. Dengan pendanaan yang tepat, sektor ini dapat berkembang dalam skala industri besar namun tetap menjaga kualitas lingkungan laut.
Melalui integrasi antara inovasi keuangan, perlindungan ekosistem, dan pemberdayaan masyarakat lokal, Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi penonton dalam tren ekonomi hijau dunia, tetapi menjadi pemimpin yang mampu membuktikan bahwa kemakmuran ekonomi dan kelestarian alam dapat berjalan beriringan.







