News  

Rupiah dan Saham RI Tersungkur Bahaya Mengintai

admin

faseberita.id – Pasar keuangan Indonesia diguncang hebat pada akhir pekan, Jumat 24 Juli 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terperosok dalam, anjlok 1,88 persen hingga menyentuh level 6.196. Tak hanya itu, nilai tukar rupiah pun ikut melemah, mengakhiri perdagangan di angka Rp 17.963 per dolar Amerika Serikat. Kombinasi pelemahan ini memicu kekhawatiran serius di kalangan investor dan pengamat ekonomi.

Situasi pasar kian suram dengan mayoritas saham, tepatnya 587 emiten, harus rela kehilangan nilainya. Hanya 104 saham yang berhasil menguat, sementara 105 lainnya stagnan. Total volume transaksi perdagangan mencapai 37,9 miliar saham dengan nilai fantastis Rp 17,7 triliun, tercatat dalam 2,25 juta kali frekuensi transaksi.

Rupiah dan Saham RI Tersungkur Bahaya Mengintai
Gambar Istimewa : statik.tempo.co

Menurut analisis tim riset Phintraco Sekuritas, tekanan jual masif yang melanda IHSG dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah global, mendorong aksi ambil untung (profit taking) yang tak terhindarkan. Namun, bukan hanya itu. Kebijakan tarif impor 10 persen yang diberlakukan Amerika Serikat terhadap produk-produk Indonesia juga menambah beban berat bagi pasar domestik.

Dampak kebijakan tarif impor AS ini tidak hanya memukul IHSG, tetapi juga menyeret nilai tukar rupiah. Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa penetapan tarif baru ini muncul setelah berakhirnya kebijakan tarif sementara yang berlaku selama 150 hari. Ini menandai babak baru dalam hubungan dagang yang berpotensi lebih menantang.

Lebih jauh, Ibrahim Assuaibi menyoroti beberapa faktor eksternal lain yang berpotensi memperburuk kondisi. Konflik geopolitik di Timur Tengah yang kian memanas turut membayangi, berpotensi menekan kinerja eksternal Indonesia, mulai dari pelebaran defisit neraca transaksi berjalan hingga tekanan terhadap nilai tukar rupiah pada kuartal ketiga tahun 2026.

Kenaikan harga minyak mentah yang melampaui target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) juga menjadi perhatian serius. "Pemerintah harus menambah cadangan dolar AS untuk menutupi defisit tersebut," ungkap Ibrahim, mengindikasikan tekanan pada keuangan negara.

Kondisi ini diperparah dengan data neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 yang mencatat defisit US$ 1,61 miliar. Ini adalah kali pertama setelah rentetan 72 bulan surplus yang membanggakan, sebuah sinyal peringatan yang tidak bisa diabaikan mengenai kesehatan ekonomi makro Indonesia.

Ikuti Kami di Google News:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *