faseberita.id – Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor melontarkan peringatan serius terkait dampak penurunan Purchasing Managers Index PMI Manufaktur terhadap sektor ketenagakerjaan Indonesia. Menurutnya kondisi ini berpotensi memicu gelombang pemutusan hubungan kerja PHK. Pemerintah tidak tinggal diam dan telah menyiapkan berbagai strategi mitigasi termasuk program pelatihan untuk meningkatkan keterampilan pekerja yang terdampak. Pernyataan ini disampaikan Wamenaker saat kunjungan di Greenland International Industrial Center Cikarang Kabupaten Bekasi pada Jumat 3 Juli 2026.
Data Kementerian Ketenagakerjaan Kemnaker mencatat sebanyak 23.470 individu telah mengalami PHK sepanjang Januari hingga Mei 2026. Angka ini khusus bagi mereka yang terdaftar dalam program Jaminan Kehilangan Pekerjaan JKP. Afriansyah menjelaskan bahwa situasi ini merupakan imbas dari ketidakpastian ekonomi global dan dinamika geopolitik yang terus bergejolak. Meski demikian ada secercah harapan dengan beberapa perusahaan yang justru memperluas operasinya seperti PT Givaudan Indonesia di Cikarang Jawa Barat yang membuka lebih banyak lapangan kerja. Ia berharap tren positif ini dapat terus berlanjut dan menciptakan kesempatan kerja baru di berbagai wilayah Indonesia.

Laporan terbaru dari lembaga pemeringkat Standard & Poor’s Global S&P Global semakin memperkuat kekhawatiran tersebut. Indeks PMI manufaktur Indonesia dilaporkan merosot tajam ke level 469 pada Juni 2026. Angka ini jauh di bawah posisi 500 yang tercatat pada Mei sebelumnya mengindikasikan kontraksi pada sektor manufaktur. Ekonom S&P Global Market Intelligence Usamah Bhatti menyoroti kenaikan signifikan pada beban biaya produksi yang menjadi pemicu utama. Tingkat inflasi harga input saat ini disebut sebagai yang tertinggi sejak September 2013.
Usamah Bhatti menambahkan bahwa permintaan pasar yang lesu telah memaksa perusahaan menurunkan tingkat produksi selama empat bulan berturut-turut bahkan menjadi penurunan paling drastis sejak April 2025. Kondisi ini juga menghambat penumpukan stok barang jadi yang kini terus berkurang selama dua bulan berturut-turut dengan laju yang lebih cepat dibandingkan Mei. Imbasnya tidak terhindarkan pada jumlah tenaga kerja. Laju PHK pada Juni 2026 tercatat sebagai yang terbesar sejak September 2021. Perusahaan merespons situasi ini dengan mengurangi jumlah karyawan aktivitas pembelian serta menekan inventaris seiring melemahnya kondisi permintaan pasar.






