faseberita.id – Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia GAPMMI memprediksi sektor mamin akan mencatatkan pertumbuhan sekitar tujuh persen hingga akhir tahun ini. Angka optimis ini muncul setelah pada kuartal pertama industri tersebut sudah menunjukkan kinerja impresif dengan pertumbuhan 704 persen. Ketua Umum GAPMMI Adhi S Lukman menegaskan target ini tetap dipertahankan kendati sejumlah indikator ekonomi menunjukkan sinyal kurang menggembirakan pada Juni 2026.
Situasi ini menjadi ujian berat bagi pelaku usaha. Adhi S Lukman saat ditemui di Westin Hotel Jakarta pada Kamis 2 Juli 2026 mengungkapkan harapannya agar tren positif ini dapat terus dijaga seiring langkah perbaikan yang mulai diinisiasi pemerintah.

Langkah perbaikan yang disoroti Adhi meliputi respons terhadap keluhan pengusaha mengenai lonjakan harga gas industri serta pembebasan bea masuk plastik guna menekan ongkos produksi. Namun sejumlah ganjalan masih membayangi seperti meroketnya harga bahan bakar minyak biaya logistik yang membengkak serta depresiasi nilai tukar rupiah yang terus melemah.
GAPMMI berkomitmen untuk terus menyuarakan isu-isu ini kepada pemerintah demi memacu kinerja sektor industri. Kami tak henti-hentinya berkomunikasi dengan pemerintah berharap agar regulasi segera direvisi untuk memperkuat fondasi industri ucap Adhi.
Data dari lembaga pemeringkat global Standard & Poor’s Global S&P sebelumnya menunjukkan bahwa Indeks Manajer Pembelian PMI manufaktur Indonesia anjlok ke angka 469 pada Juni 2026. Angka ini merupakan penurunan signifikan dari level 500 di bulan Mei. Kontraksi di bulan Juni ini dipicu oleh merosotnya permintaan terhadap produk manufaktur dalam negeri.
Sementara itu Kementerian Perindustrian melaporkan Indeks Kepercayaan Industri IKI pada Juni 2026 berada di angka 5290 lebih rendah dari 536 pada bulan sebelumnya. Penurunan ini disebabkan oleh lonjakan harga energi pelemahan rupiah yang memicu kenaikan harga bahan baku serta gangguan pasokan listrik yang menghambat proses produksi.
Adhi S Lukman menekankan bahwa persoalan harga bahan baku sangat krusial sehingga regulasi terkait harus lebih mendukung iklim usaha. Agar pelaku industri memiliki keleluasaan lebih dalam mencari sumber pasokan yang lebih efisien tuturnya.






