News  

Misteri Saham BYAN dan Haji Isam

admin
Misteri Saham BYAN dan Haji Isam

faseberita.id – Dunia pasar modal tanah air tengah diguncang oleh kabar mengejutkan terkait rencana transaksi besar di tubuh PT Bayan Resources Tbk (BYAN). Langkah pengusaha kenamaan Andi Syamsudin Arsyad, atau yang akrab disapa Haji Isam, melalui PT Jhonlin Baratama untuk mengambil alih 10 miliar lembar saham BYAN memicu berbagai spekulasi mengenai masa depan raksasa batubara tersebut.

Menanggapi kegaduhan ini, manajemen BYAN akhirnya angkat bicara untuk memberikan klarifikasi mengenai posisi pemilik lama, yakni konglomerat Low Tuck Kwong dan Elaine Low. Dalam keterbukaan informasi terbaru yang dirilis, perusahaan memberikan gambaran jelas mengenai struktur kepemilikan saham pasca-rencana transaksi jual beli saham bersyarat tersebut.

Misteri Saham BYAN dan Haji Isam
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Meski ada rencana pengalihan saham dalam jumlah masif yang setara dengan 30 persen dari total saham yang ditempatkan, manajemen menegaskan bahwa kendali perusahaan tidak akan berpindah tangan. Low Tuck Kwong dipastikan tetap memegang posisi sebagai pemegang saham utama sekaligus pengendali perseroan.

Jika rencana transaksi ini terealisasi, komposisi kepemilikan akan mengalami penyesuaian. Low Tuck Kwong diproyeksikan akan memiliki sekitar 6,95 miliar saham atau setara dengan 20,85 persen dari total saham perusahaan. Sementara itu, Elaine Low akan menguasai sekitar 3,79 miliar saham atau setara dengan 11,39 persen.

Menariknya, manajemen BYAN mengungkapkan bahwa mereka baru mengetahui adanya rencana transaksi ini setelah menerima surat resmi dari Low Tuck Kwong dan Elaine Low. Hal ini menunjukkan bahwa proses negosiasi dan pembahasan transaksi dilakukan sepenuhnya oleh pihak penjual tanpa melibatkan jajaran Direksi maupun Dewan Komisaris perseroan, kecuali Low Tuck Kwong yang memang menjabat sebagai Presiden Direktur.

Hingga saat ini, manajemen mengaku tidak memiliki informasi mendalam mengenai detail nilai transaksi, mekanisme penentuan harga, hingga linimasa penyelesaian kesepakatan tersebut. Perseroan juga menyatakan tidak mengetahui adanya rencana akuisisi lebih lanjut oleh pihak terafiliasi maupun Bayan International Group.

Di tengah dinamika kepemilikan saham ini, operasional perusahaan diklaim tetap berjalan stabil. Terkait sempat adanya isu penghentian sementara kegiatan tambang pada tiga anak usaha, yakni PT Tiwa Abadi, PT Tanur Jaya, dan PT Fajar Sakti Prima, manajemen memastikan kondisi telah kembali normal. Hal ini menyusul disetujuinya perubahan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun 2026 bagi ketiga entitas tersebut.

Dengan kembalinya normalitas operasional, perusahaan memastikan tidak ada dampak material yang berkelanjutan terhadap kinerja keuangan secara keseluruhan. Mengenai rencana sinergi masa depan dengan PT Jhonlin Baratama, manajemen memilih untuk bungkam karena transaksi tersebut secara hukum belum terjadi dan perseroan tidak terlibat dalam proses negosiasinya.

Ikuti Kami di Google News:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *