faseberita.id – Pasar modal Indonesia tengah menghadapi tekanan yang cukup signifikan pada perdagangan sesi I, Jumat (25/9/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau masih menunjukkan tren pelemahan yang cukup dalam. Hingga tengah hari, indeks merosot ke level 6.263,73, atau mengalami penurunan sebesar 34,88 poin atau setara dengan 0,55 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Kondisi ini diperparah dengan arus keluar modal asing atau outflow yang cukup masif. Berdasarkan data transaksi yang dihimpun dari Stockbit, investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp355,78 miliar hingga sesi siang ini. Secara rincian, nilai transaksi pembelian oleh investor asing tercatat sebesar Rp1,09 triliun, namun angka ini tidak mampu membendung derasnya arus penjualan asing yang mencapai angka Rp1,44 triliun.

Meskipun secara keseluruhan investor global sedang melakukan aksi ambil untung atau keluar dari pasar domestik, fenomena menarik justru terjadi pada beberapa emiten tertentu. Di tengah badai pelemahan indeks, sejumlah saham justru menjadi primadona dan diborong oleh investor asing.
Sektor perbankan tetap menjadi magnet utama. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) memimpin daftar saham yang paling banyak diburu asing dengan nilai pembelian mencapai Rp15,65 miliar. Tak ketinggalan, sektor industri dan energi juga menunjukkan daya tarik, terlihat dari aksi beli pada saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) senilai Rp9,83 miliar dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) sebesar Rp8,59 miliar.
Daftar saham yang masuk dalam radar beli asing juga mencakup PT MNC Energy Investments Tbk (IATA) dengan nilai Rp8,04 miliar, PT Intermedia Capital Tbk (MDIA) sebesar Rp7,83 miliar, serta PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) senilai Rp6,57 miliar. Selain itu, raksasa energi PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) juga turut diborong senilai Rp6,13 miliar. Beberapa saham lain seperti PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), PT Graha Andrasentra Propertindo Tbk (JGLE), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) juga mencatatkan aliran dana masuk dari asing.
Namun, di sisi lain, tekanan jual yang sangat kuat justru menghantam saham-saham berkapitalisasi besar atau blue chip. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) menjadi sasaran utama aksi jual asing dengan nilai net sell mencapai Rp43,75 miliar. Disusul oleh PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang dilepas senilai Rp37,84 miliar, serta PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dengan nilai penjualan Rp34,71 miliar.
Sektor perbankan lainnya juga tidak luput dari tekanan. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mengalami aksi jual sebesar Rp28,86 miliar, diikuti oleh PT Bumi Resources Tbk (BUMI) senilai Rp27,04 miliar, dan PT Astra International Tbk (ASII) sebesar Rp26,02 miliar. Pergerakan ini menunjukkan bahwa investor asing sedang melakukan rotasi portofolio secara agresif, meninggalkan saham-saham besar untuk mencari peluang di emiten lain yang dianggap lebih menarik secara jangka pendek.







