faseberita.id – Jakarta – Kisah hidup para mantan pejabat negara selalu menarik perhatian publik. Banyak yang menikmati masa pensiun dengan segala kemewahan, namun tak sedikit pula yang harus berjuang keras demi kelangsungan hidup. Salah satu cerita paling menggetarkan hati datang dari sosok mantan Menteri Agama RI, Saifuddin Zuhri, yang memilih jalan kesederhanaan ekstrem hingga akhirnya kedapatan menjajakan beras di Pasar Glodok, Jakarta.
Saifuddin Zuhri, yang pernah menjabat sebagai Menteri Agama ke-10 dari tahun 1962 hingga 1967, setelah purna tugas dari panggung politik dan pemerintahan, menjalani kehidupan yang jauh dari sorotan dan kemewahan. Sebuah kisah inspiratif mengungkap bahwa pada era 1980-an, beliau memilih profesi baru sebagai pedagang beras. Rutinitasnya dimulai setiap pagi, sekitar pukul sembilan, setelah menunaikan salat Dhuha, ia akan mengemudikan mobilnya sendiri, mengangkut karung-karung beras menuju pasar.

Profesi barunya ini bahkan dirahasiakan rapat-rapat dari keluarga terdekat. Istri dan anak-anaknya hanya mengetahui bahwa Saifuddin selalu membawa pulang uang, tanpa pernah tahu persis dari mana sumber penghasilan tersebut. Rahasia ini akhirnya terbongkar secara tak sengaja ketika salah seorang putranya memergoki sang ayah tengah melayani pembeli di tengah hiruk pikuk Pasar Glodok.
Berdagang sebenarnya bukan hal baru bagi Saifuddin. Dalam otobiografinya, "Berangkat dari Pesantren" (1984), ia pernah mengisahkan bagaimana pada tahun 1942, saat anak pertamanya lahir, ia harus berjuang keras mencari nafkah dengan menjual berbagai barang, mulai dari pakaian bekas, perabotan rumah tangga, hingga rokok, demi menyambung hidup keluarganya.
Integritas dan kesederhanaan Saifuddin telah mengakar kuat jauh sebelum ia pensiun. Semasa menjabat sebagai menteri, ayah dari Lukman Hakim Saifuddin (Menteri Agama era Kabinet Kerja) ini memegang teguh prinsip bahwa jabatan adalah amanah suci yang tak boleh disalahgunakan untuk memperkaya diri atau mencari keistimewaan pribadi.
Prinsip mulia itu dibuktikan secara nyata. Meski berhak menempati rumah dinas mewah dan didesak berkali-kali, ia dengan tegas menolak. Saifuddin memilih untuk tetap tinggal di rumah pribadinya di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. "Kalau begitu aku serakah namanya. Kalau menteri agama sudah serakah, bagaimana yang lain… sikapku tegas. Sejak itu aku tetap menempati rumah sendiri hingga sekarang," ujarnya kala itu, menegaskan komitmennya.
Ia bahkan memilih untuk mencicil rumahnya sendiri di Jalan Hang Tuah, Kebayoran Baru, demi menjaga kemandirian. Yang lebih menakjubkan, setelah cicilan rumah itu lunas, ia menghibahkannya secara cuma-cuma untuk kepentingan sosial Nahdlatul Ulama, organisasi yang sangat dekat dengannya.
Jejak pengabdian Saifuddin Zuhri di dunia fana berakhir pada 25 Februari 1986 setelah berjuang melawan sakit. Puluhan tahun telah berlalu sejak ia melepas jabatannya, namun warisan integritas tanpa kompromi dan kesederhanaan hakiki yang ia tinggalkan tetap abadi sebagai teladan mulia bagi para pemimpin dan pejabat di negeri ini.







