faseberita.id – Kepanikan melanda pasar modal Indonesia pada perdagangan Jumat (11/09) pagi. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terperosok tajam 1,14 persen, menyentuh level 6.514 pada pukul 10:04 WIB. Tak hanya itu, nilai tukar Rupiah juga tak berdaya, ambruk hingga menyentuh Rp 17.602 per Dolar AS, memperparah tekanan ekonomi domestik.
Situasi genting ini tak lepas dari gejolak global yang memanas. Yield obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) yang meroket tajam menjadi pemicu utama investor menarik dananya dari pasar berkembang. Di sisi lain, ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas, memicu kekhawatiran pasokan dan permintaan energi dunia.

Lonjakan harga komoditas global menjadi dampak langsung dari ketidakpastian ini. Harga minyak mentah berhasil menembus angka 103 Dolar AS per barel, sementara harga komoditas strategis lainnya juga meroket hingga 145 Dolar AS per ton. Kenaikan ini dipicu oleh melonjaknya permintaan energi di seluruh dunia yang tak sebanding dengan pasokan yang ada.
Lantas, bagaimana prospek pergerakan pasar keuangan Indonesia ke depan di tengah badai global ini? Analisis mendalam dari Shafinaz Nachiar dalam program Profit faseberita.id pada Jumat (11/09) mengupas tuntas dinamika pasar dan potensi dampaknya bagi perekonomian nasional.







