News  

Mega Kesepakatan RI-AS: US$ 33 Miliar Perkuat Ekonomi Dua Negara

admin
Mega Kesepakatan RI-AS: US$ 33 Miliar Perkuat Ekonomi Dua Negara

WASHINGTON D.C., faseberita.id – Pemerintah Amerika Serikat dan Indonesia baru saja mengukir babak baru dalam hubungan ekonomi mereka dengan meresmikan serangkaian perjanjian komersial bernilai fantastis, mencapai US$ 33 miliar atau setara dengan Rp 577,1 triliun (dengan asumsi kurs Rp 16.883 per dolar AS). Kesepakatan ini, yang mencakup berbagai sektor strategis, diharapkan tidak hanya mempererat kemitraan bilateral tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi kedua negara.

Detail-detail penting dari kesepakatan ini terangkum dalam lembar fakta yang dirilis oleh Gedung Putih pada 19 Februari 2026. Dalam pernyataan resminya, Gedung Putih mengapresiasi besarnya volume kesepakatan ini, yang disebut sebagai investasi signifikan di sektor pertanian, kedirgantaraan, dan energi di Amerika Serikat, sekaligus berpotensi meningkatkan ekspor AS ke Indonesia.

Mega Kesepakatan RI-AS: US$ 33 Miliar Perkuat Ekonomi Dua Negara
Gambar Istimewa : statik.tempo.co

Angka fantastis US$ 33 miliar ini terbagi dalam beberapa pilar utama. Sekitar US$ 15 miliar dialokasikan untuk pembelian komoditas energi dari AS. Kemudian, sektor kedirgantaraan menerima porsi sekitar US$ 13,5 miliar, yang mencakup pengadaan pesawat komersial serta barang dan jasa terkait penerbangan, termasuk dari raksasa dirgantara Boeing. Sementara itu, produk pertanian AS akan dibeli dengan nilai lebih dari US$ 4,5 miliar.

Tak kalah penting, raksasa tambang emas asal AS, Freeport-McMoRan, juga telah menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan Pemerintah Indonesia. Perjanjian ini memungkinkan Freeport untuk memperpanjang izin tambangnya dan memperluas operasi di distrik mineral Grasberg, yang dikenal sebagai tambang tembaga terbesar kedua di dunia. Kesepakatan ini diproyeksikan akan menghasilkan pendapatan tahunan sebesar US$ 10 miliar dan secara strategis akan memperkuat rantai pasok mineral kritis bagi Amerika Serikat.

Pencapaian ini bukan tanpa latar belakang. Ia merupakan buah dari negosiasi intensif mengenai tarif resiprokal antara kedua negara. Pada Kamis pagi, 19 Februari waktu AS, Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump secara resmi menandatangani Agreement of Reciprocal Trade (ART), yang menjadi payung bagi serangkaian kesepakatan komersial ini.

Menanggapi peresmian ART, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani, dalam konferensi pers daring membeberkan lebih lanjut mengenai rincian kesepakatan komersial yang menjadi bagian integral dari perjanjian tersebut.

"Ada beberapa kesepakatan kunci, di antaranya adalah rencana pembelian 50 pesawat Boeing. Meskipun sudah ada pembicaraan awal, kami akan melakukan diskusi lebih lanjut dengan Boeing," ungkap Rosan.

CEO Danantara itu melanjutkan bahwa Indonesia juga memiliki rencana untuk mengimpor gas dan minyak mentah dari AS dengan nilai mencapai US$ 15 miliar per tahun. Rosan Roeslani menambahkan bahwa akan ada pembahasan lanjutan mengenai potensi investasi di berbagai bidang lain, termasuk sektor minyak dan gas, yang menunjukkan komitmen kedua negara untuk terus menjajaki peluang kerja sama ekonomi yang lebih luas.

Ikuti Kami di Google News:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *