faseberita.id – Kisah inspiratif datang dari Brian Aggrey dan Phoebe Novack, pasangan muda yang mendadak kaya raya berkat penawaran umum perdana (IPO) saham SpaceX. Keputusan berani mereka untuk mengundurkan diri dari pekerjaan dan menjelajahi dunia selama setahun penuh menjadi sorotan. Aggrey, mantan insinyur perangkat lunak senior di SpaceX, bersama istrinya, Novack, memutuskan untuk mengejar hobi dan impian setelah kekayaan mereka meroket pasca-IPO.
Pasangan berusia 35 tahun ini tidak main-main dengan petualangan mereka. Mereka mengalokasikan anggaran fantastis sebesar US$25.000 setiap bulan. Dengan nilai tukar rupiah saat ini, jumlah tersebut setara dengan sekitar Rp441,88 juta per bulan, atau total Rp5,30 miliar untuk satu tahun penuh perjalanan mereka. Sebuah bukti nyata bahwa investasi jangka panjang di perusahaan teknologi bisa mengubah hidup.

Perjalanan Aggrey di perusahaan roket milik Elon Musk dimulai sejak usia 21 tahun sebagai pekerja magang. Selama 14 tahun mengabdi, ia terlibat dalam berbagai proyek krusial, mulai dari struktur mekanis roket Falcon 9 hingga desain komponen avionik untuk wahana antariksa. Saham SpaceX yang kini menjadi tumpuan kekayaannya terkumpul dari alokasi awal saat bergabung dan bonus kinerja tahunan.
Bukan tanpa pengorbanan, Aggrey dan Novack, yang bertemu saat kuliah di Washington University in St. Louis, bahkan pernah tinggal bersama teman sekamar di Los Angeles demi menghemat biaya. Tujuannya jelas: agar Aggrey bisa membeli opsi saham SpaceX sebanyak mungkin. Ia mengenang masa sulit pada tahun 2015, ketika ia tak sanggup membayar pajak atas opsi saham sekaligus biaya sewa, hingga seorang teman menalangi US$200. Saat itu, mereka tak pernah tahu apakah saham yang mereka kumpulkan akan bernilai, namun keputusan berisiko itu kini berbuah manis.
SpaceX secara resmi melakukan debutnya di bursa pada 12 Juni 2026, dalam IPO yang tercatat sebagai salah satu yang terbesar di dunia. Setelah hari pertama perdagangan, valuasi perusahaan mencapai angka fantastis US$2,1 triliun. Pasangan ini mengungkapkan bahwa banyak rekan kerja mereka yang juga menikmati hasil IPO kini mempertimbangkan pensiun dini atau bahkan membeli properti tambahan.
Aggrey dan Novack sendiri hanya menjual sebagian kecil dari kepemilikan saham mereka, cukup untuk merasa aman dari volatilitas harga. Sebagian besar saham masih tetap dipegang, kini diperlakukan sebagai "modal nyata" yang memberikan kebebasan finansial. Sejak Juli, keduanya telah menjelajahi Eropa. Novack mengikuti kelas akting intensif di Fontainebleau Prancis, sementara Aggrey bersepeda, mengunjungi museum di Paris, hingga terbang ke Valencia Spanyol untuk memotret gerhana matahari total. Mereka juga sempat menjajal paralayang di Chamonix dan menonton Grand Prix Formula 1 di Italia.
Menjelang akhir tahun, Aggrey berencana bertolak ke Mexico City untuk berkolaborasi dengan pematung Brian Thoreen dalam proyek seni yang mengangkat isu krisis air di kota tersebut. Sementara itu, Novack akan mengambil kelas desain lanskap, seni visual, dan produksi film. Petualangan besar mereka dijadwalkan berakhir pada 31 Juli 2027. Setelah itu, mereka terbuka untuk kembali ke jalur karier lama atau menjajaki bidang baru. Aggrey, misalnya, mengaku tertarik untuk membenahi sistem transportasi publik di Amerika Serikat setelah merasakan efisiensi layanan serupa di Eropa.







