faseberita.id – Indeks Harga Saham Gabungan IHSG harus menelan pil pahit di penutupan perdagangan Jumat 4 September 2026. Alih-alih melanjutkan tren positif indeks acuan ini justru anjlok 3142 poin atau setara 047 persen dan parkir di level 663648. Sebuah akhir pekan yang jauh dari harapan para investor.
Pergerakan IHSG hari itu cukup volatil dibuka pada 669569 sempat menyentuh puncak 670413 namun juga menyentuh dasar 663393. Dominasi sentimen negatif terlihat jelas dengan 363 saham terperosok 256 saham menguat dan 172 saham tak bergerak. Total volume perdagangan mencapai 3580 miliar saham dengan nilai transaksi fantastis sekitar Rp 1504 triliun.

Mayoritas sektor perdagangan ikut terseret dalam koreksi ini. Sektor konsumer kesehatan industri dan teknologi menjadi penyumbang koreksi terdalam. Hanya sektor energi yang mampu menunjukkan kekuatan dengan mencatatkan kenaikan tertinggi. Beberapa emiten raksasa yang menjadi beban utama pergerakan IHSG hari ini termasuk BBCA ASII BMRI VKTR dan BBRI.
Padahal sebelumnya IHSG digadang-gadang berpotensi melanjutkan penguatan pada perdagangan Jumat itu. Sejumlah sentimen positif dari dalam negeri serta perkembangan kebijakan moneter Amerika Serikat diharapkan mampu menjadi penopang.
Dari ranah domestik relaksasi likuiditas Bank Indonesia BI menjadi katalis utama. BI telah meningkatkan insentif Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial KLM menjadi 6 persen mulai September. Total insentif yang telah diterima perbankan mencapai Rp 4465 triliun. Kebijakan ini diharapkan memacu penyaluran kredit khususnya ke sektor riil dan UMKM. Sentimen positif lain datang dari insentif pajak atas bunga SBN valas serta jaminan pemerintah bahwa pembiayaan program Koperasi Desa Merah Putih tidak akan menjadi kredit bermasalah bagi perbankan.
Namun harapan tersebut tak cukup kuat menghadapi tekanan eksternal. Perhatian pasar tertuju pada data tenaga kerja Amerika Serikat AS yang akan dirilis malam itu terutama nonfarm payrolls NFP tingkat pengangguran dan pertumbuhan upah. Data tersebut akan menjadi salah satu penentu arah kebijakan The Fed.
Meskipun Gubernur The Fed Christopher Waller cenderung mendukung mempertahankan suku bunga pada level saat ini di September jika data inflasi tidak mengejutkan pasar tetap mencermati. Hasil data tenaga kerja yang terlalu kuat berpotensi mempertahankan tekanan inflasi dan ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama. Data ekonomi AS sendiri menunjukkan klaim pengangguran masih rendah namun sektor jasa menguat dengan ISM Services PMI mencapai 554 pada Agustus. Di sisi lain tekanan harga meningkat memberikan sinyal campuran bagi The Fed dan pasar global.







