News  

IHSG Anjlok Drastis Jelang Penutupan Pasar

admin
IHSG Anjlok Drastis Jelang Penutupan Pasar

faseberita.id – Pasar modal Indonesia dikejutkan dengan pergerakan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan sesi kedua, Jumat (25/9/2026). Setelah sempat menunjukkan optimisme di awal sesi, indeks justru terjun bebas dan mencatatkan pelemahan signifikan di atas 1 persen menjelang penutupan pekan ini.

Berdasarkan pantauan data pasar, IHSG sempat dibuka dengan tren positif di level 6.315,53. Bahkan, pada awal perdagangan sesi pagi, indeks sempat menyentuh titik tertinggi di level 6.328,41. Namun, euforia tersebut tidak bertahan lama. Tekanan jual yang masif mulai menghantam pasar sejak pukul 10.00 WIB, yang mengakibatkan indeks merosot tajam hingga menyentuh level terendah di 6.235,18.

IHSG Anjlok Drastis Jelang Penutupan Pasar
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Meski sempat terjadi upaya pemulihan atau rebound terbatas yang membuat pergerakan indeks menjadi fluktuatif hingga tengah hari, tekanan jual kembali mendominasi. Hingga berita ini diturunkan, IHSG terpantau tertahan di kisaran 6.236,53, mempertegas tren pelemahan di penghujung pekan.

Aktivitas transaksi di bursa menunjukkan volume yang cukup tinggi. Tercatat sebanyak 21,04 miliar saham telah berpindah tangan dengan total volume mencapai 210,44 juta lot. Nilai transaksi yang mengalir di pasar modal Indonesia pun tergolong jumbo, menembus angka Rp6.709,128 triliun.

Pelemahan IHSG ini tidak lepas dari sentimen global yang sedang memanas. Salah satu pemicu utamanya adalah sinyal dari pejabat Federal Reserve (The Fed) yang mengisyaratkan bahwa suku bunga Amerika Serikat masih berpotensi naik. Inflasi di AS yang dinilai masih "membandel" membuat kebijakan pengetatan moneter menjadi pilihan yang masuk akal bagi bank sentral tersebut.

Presiden Philadelphia Fed, Anna Paulson, menyebutkan bahwa inflasi masih sulit dikendalikan, sementara Presiden New York Fed, John Williams, memberikan sinyal bahwa kenaikan suku bunga di akhir tahun 2026 merupakan langkah yang logis. Kondisi ini diperparah dengan lonjakan imbal hasil (yield) obligasi Treasury AS tenor panjang yang mencapai level tertinggi dalam lebih dari dua dekade.

Lonjakan yield Treasury 30 tahun yang menembus 5,48% memicu kekhawatiran akan meningkatnya biaya pinjaman secara global. Hal ini berdampak langsung pada ekonomi dunia, termasuk potensi tekanan pada pasar keuangan dan korporasi. Di sisi lain, investor domestik juga tengah mencermati berbagai faktor internal, mulai dari kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah, pertumbuhan uang beredar, hingga pembahasan postur APBN 2027.

Kondisi pasar di kawasan Asia-Pasifik pun menunjukkan pergerakan yang beragam. Di tengah ketidakpastian global, bursa Jepang seperti Nikkei 225 justru mencatatkan penguatan tipis, sementara bursa Australia mengalami koreksi. Dinamika ini mencerminkan kewaspadaan tinggi para pelaku pasar terhadap arah kebijakan moneter global dan stabilitas ekonomi dunia.

Ikuti Kami di Google News:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *