faseberita.id – Kehidupan para pejabat tinggi negara setelah melepaskan jabatan sering kali menjadi sorotan publik. Ada yang memilih menikmati masa tua dengan kemewahan, namun ada pula yang memilih jalan sunyi untuk tetap mengabdi kepada rakyat. Kisah luar biasa datang dari almarhum Mar’ie Muhammad, sosok yang pernah menjabat sebagai Menteri Keuangan Republik Indonesia ke-18. Dikenal luas dengan julukan "Mr. Clean" karena integritasnya yang tanpa cela, ia justru menunjukkan sisi kemanusiaan yang sangat membumi saat badai krisis ekonomi melanda Indonesia pada tahun 1998.
Mar’ie Muhammad resmi mengakhiri masa pengabdiannya sebagai bendahara negara pada 16 Maret 1998. Pergantian kepemimpinan di Kementerian Keuangan terjadi saat Presiden Soeharto membentuk Kabinet Pembangunan VII, yang kemudian menunjuk Fuad Bawazier sebagai penggantinya. Bagi Mar’ie, momen tersebut bukan sekadar akhir dari sebuah jabatan, melainkan awal dari sebuah perjalanan sosial yang menyentuh hati. Alih-alih menarik diri dari hiruk-pikuk persoalan bangsa, ia justru terjun langsung ke tengah masyarakat yang sedang berjuang bertahan hidup di tengah krisis moneter.

Melalui catatan dalam buku autobiografinya, terungkap bahwa pasca-jabatan menteri, Mar’ie bergabung dengan Komite Kemanusiaan Indonesia (KKI). Di sana, ia tidak duduk manis di balik meja, melainkan turun ke lapangan untuk mendistribusikan bantuan pangan. Fokus utamanya adalah membantu para mahasiswa yang sedang berdemonstrasi di kawasan Senayan serta warga kelas bawah yang terdampak hebat oleh lonjakan harga kebutuhan pokok.
Salah satu momen yang paling menyentuh adalah ketika ia dan timnya menyiapkan ratusan hingga hampir seribu nasi bungkus setiap harinya. Kepedulian Mar’ie tidak hanya terbatas pada kelompok besar, tetapi juga menyentuh individu-individu kecil di sekitarnya, seperti para pengemudi bajaj di sekitar kantornya. Ia memastikan bahwa di tengah kesulitan ekonomi, tidak ada orang di sekitarnya yang terabaikan.
Semangat kemanusiaan ini juga ditularkan oleh sang istri, Ayu Resmiyati atau yang akrab disapa Etty Mar’ie Muhammad. Di tengah situasi ekonomi yang mencekam pada penghujung tahun 1998, Etty mengambil langkah nyata melalui Yayasan Permata Sari yang ia pimpin. Ia mendirikan warung nasi murah di area strategis seperti kawasan Kampus Universitas Indonesia (UI) Depok dan IKIP (sekarang UNJ).
Warung nasi tersebut menjadi penyelamat bagi para mahasiswa yang kesulitan finansial. Di saat harga makanan di pasar melonjak tajam, Etty menjual nasi bungkus lengkap dengan lauk ayam goreng, sayur, dan air mineral hanya dengan harga Rp1.000 per porsi. Harga ini sangat jauh di bawah harga pasar normal yang saat itu mencapai Rp5.000. Setiap harinya, sebanyak 150 bungkus nasi disiapkan khusus untuk meringankan beban mereka yang sedang berjuang menuntut perubahan.
Warisan Mar’ie Muhammad bukan sekadar tentang kebijakan fiskal yang bersih, melainkan tentang bagaimana seorang pemimpin tetap memiliki empati meski tak lagi memiliki kekuasaan. Hingga akhir hayatnya pada 11 Desember 2016, ia terus aktif dalam berbagai gerakan sosial, mulai dari Palang Merah Indonesia (PMI) hingga mendukung gerakan antikorupsi. Sosoknya tetap menjadi teladan abadi tentang arti integritas dan pengabdian yang tulus kepada rakyat kecil.







