News  

Fiskal Membaik, S&P Jaga Peringkat Utang RI Tetap Stabil

admin
Fiskal Membaik, S&P Jaga Peringkat Utang RI Tetap Stabil

Di tengah dinamika ekonomi global yang penuh tantangan, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membawa angin segar dari Washington DC. Lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings telah mengonfirmasi keputusannya untuk mempertahankan outlook utang Indonesia pada level stabil. Konfirmasi ini didapatkan Purbaya usai pertemuan dengan perwakilan S&P pada Selasa, 14 April 2026.

Menurut Purbaya, dasar keputusan S&P tersebut tak lepas dari indikator perbaikan kondisi fiskal dan aktivitas perekonomian nasional. Kekhawatiran awal mengenai defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang hampir menyentuh ambang batas 2,9 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) berhasil diredam. Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) terkini menunjukkan defisit berada di kisaran 2,8 persen, sebuah angka yang dinilai positif oleh lembaga pemeringkat tersebut. Selain itu, pertumbuhan ekonomi pada triwulan keempat 2025 yang melampaui tiga triwulan sebelumnya turut menjadi penunjang penilaian.

Fiskal Membaik, S&P Jaga Peringkat Utang RI Tetap Stabil
Gambar Istimewa : statik.tempo.co

"Itu mungkin alasan mereka memberi konfirmasi ke saya kemarin bahwa outlook peringkat kita tetap stabil," ucap Purbaya dalam keterangannya, dikutip Kamis, 16 April 2026.

S&P sendiri lazimnya merilis atau memperbarui peringkat kredit negara (sovereign credit rating) Indonesia pada bulan Juli setiap tahunnya. Sebagai bagian dari proses penilaian, tim S&P dijadwalkan akan mengunjungi Indonesia pada Juni 2026 untuk melakukan evaluasi lebih lanjut.

Menariknya, konfirmasi ini datang hanya sehari setelah S&P pada 13 April 2026 sempat merilis laporan yang menyoroti kerentanan peringkat utang Indonesia dibandingkan negara-negara Asia lain, terutama di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah. Namun, Purbaya meluruskan bahwa laporan tersebut diterbitkan sebelum pertemuannya dengan tim S&P.

"Jadi sepertinya mereka sudah melakukan assessment ulang dan di hari Selasa ketika saya meeting dengan mereka, mereka memberikan konfirmasi bahwa memang outlook kita tidak berubah, masih stabil dengan rating BBB," jelas Purbaya.

Situasi ini kontras dengan pandangan dua lembaga pemeringkat kredit internasional lainnya, Fitch Ratings dan Moody’s. Keduanya sebelumnya telah menurunkan outlook utang Indonesia menjadi negatif. Moody’s mengambil langkah tersebut pada 5 Februari 2026, diikuti oleh Fitch pada Rabu, 4 Maret 2026. Kedua lembaga ini menyoroti isu pengelolaan fiskal dan defisit APBN, termasuk mempertimbangkan program prioritas dengan anggaran besar seperti ‘makan bergizi gratis’ (MBG) dalam penilaian mereka.

Ikuti Kami di Google News:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *