JAKARTA, faseberita.id – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) melaporkan kinerja ekspor minyak sawit mentah (CPO) dan produk turunannya mengalami penurunan drastis pada Maret 2026. Penurunan ini tidak hanya terjadi pada volume ekspor, tetapi juga pada produksi dan konsumsi domestik secara bulanan, meskipun ada beberapa catatan positif secara tahunan.
Menurut data yang dirilis GAPKI pada Senin, 25 Mei 2026, total volume ekspor produk sawit Indonesia pada Maret 2026 hanya mencapai 2.168 ton. Angka ini anjlok tajam sebesar 34,25 persen dibandingkan capaian Februari 2026 yang tercatat 3.297 ton. Penurunan paling signifikan terlihat pada ekspor CPO murni, yang melorot hingga 75,61 persen, dari 295 ribu ton pada Februari menjadi hanya 96 ribu ton di Maret.

Sembilan Negara Tujuan Utama Terdampak
Penurunan ekspor ini terasa di sembilan negara tujuan utama. Tiongkok menjadi pasar yang paling terpukul, dengan penurunan ekspor mencapai 314 ribu ton pada Maret. Disusul India yang mencatat penurunan 291 ribu ton, dan Pakistan dengan pengurangan 113 ribu ton.
Selain itu, Bangladesh mengalami penurunan ekspor sebesar 90 ribu ton, pasar Afrika turun 81 ribu ton, dan negara-negara Timur Tengah menyusut 77 ribu ton. Malaysia juga mencatat penurunan 71 ribu ton, Amerika Serikat 41 ribu ton, dan ekspor ke Uni Eropa terpangkas 25 ribu ton.
Di tengah tren negatif ini, hanya Rusia yang menunjukkan peningkatan ekspor, dengan volume naik 24 ribu ton pada periode yang sama.
Produksi dan Konsumsi Domestik Ikut Melorot
Tidak hanya ekspor, produksi CPO Indonesia juga mengalami kontraksi. GAPKI mencatat produksi CPO pada Maret 2026 mencapai 4.403 ton, turun 12,22 persen dari 5.015 ton di bulan sebelumnya. Produksi olahan minyak inti sawit (PKO) juga tidak luput dari penurunan, menyusut 12,35 persen menjadi 418 ribu ton.
Konsumsi dalam negeri pun ikut terdampak, dengan total penurunan 8,25 persen menjadi 2.115 ton pada Maret, dari 2.305 ton di Februari. Penurunan terbesar terjadi pada konsumsi pangan yang turun 9,03 persen menjadi 897 ribu ton. Konsumsi biodiesel juga menyusut 7,71 persen menjadi 1.056 ton, diikuti oleokimia yang turun 7,43 persen menjadi 162 ribu ton.
Namun, di tengah penurunan bulanan ini, GAPKI menyoroti bahwa konsumsi dalam negeri CPO hingga Maret 2026 secara kumulatif tahunan justru meningkat 7,47 persen, mencapai 6.524 ton.
Nilai Ekspor dan Stok Akhir
Meskipun volume ekspor anjlok, nilai ekspor total produk sawit pada Maret 2026 tercatat US$ 2,61 miliar, turun 29,27 persen dibandingkan Februari. Menariknya, secara tahunan hingga Maret 2026, nilai ekspor justru lebih tinggi 10,40 persen. GAPKI menjelaskan, kenaikan nilai ekspor tahunan ini didorong oleh lonjakan volume ekspor kumulatif dan kenaikan harga rata-rata CPO pada Januari-Maret 2026 yang mencapai US$ 1.356 per ton CIF Rotterdam.
Dengan stok awal Maret 2026 sebesar 2.026 ribu ton, produksi 4.821 ribu ton, konsumsi 2.115 ton, dan ekspor 2.168 ribu ton, GAPKI melaporkan stok akhir CPO pada bulan ketiga mencapai 2.568 ton. Angka ini menunjukkan peningkatan stok secara bulanan, mengindikasikan adanya surplus pasokan di tengah perlambatan permintaan.
Satu-satunya produk turunan kelapa sawit yang menunjukkan kinerja positif adalah oleokimia. Ekspor oleokimia naik 1,42 persen secara bulanan menjadi 468 ribu ton, dan melonjak 11,91 persen secara tahunan menjadi 8.546 ton. Ini menunjukkan adanya diversifikasi pasar atau permintaan yang stabil untuk produk oleokimia di tengah fluktuasi pasar CPO.







