News  

Bos IMF Guncang Dunia Harga Energi Belum Aman

admin
Bos IMF Guncang Dunia Harga Energi Belum Aman

faseberita.id – Peringatan keras datang dari pucuk pimpinan Dana Moneter Internasional IMF Kristalina Georgieva. Ia menegaskan guncangan harga energi global akibat gejolak di Timur Tengah belum berakhir. Meski demikian ekonomi dunia sejauh ini justru menunjukkan ketahanan yang mengejutkan melebihi perkiraan awal. Namun kewaspadaan tetap harus dijaga mengingat kondisi fiskal sejumlah negara yang kian tertekan.

Banyak pihak terkejut melihat bagaimana perekonomian global berhasil meredam dampak penutupan Selat Hormuz yang sempat dikhawatirkan. Georgieva menjelaskan keberhasilan ini berkat kombinasi langkah strategis seperti pemanfaatan cadangan minyak dan gas, peningkatan pasokan dari wilayah non-Teluk, penurunan permintaan, ekspansi energi terbarukan, hingga kembali digunakannya pembangkit listrik tenaga batu bara.

Bos IMF Guncang Dunia Harga Energi Belum Aman
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Tak hanya itu gelombang investasi besar-besaran di sektor kecerdasan buatan AI terutama di Amerika Serikat turut menjadi penopang. Lonjakan investasi ini menjaga kinerja laba korporasi dan belanja konsumen tetap solid sebuah tren positif yang kini mulai merambah ke negara-negara lain dengan pembangunan pusat data dan penguatan rantai pasok perangkat keras AI.

Namun Georgieva mengingatkan agar dunia tidak terlena. Dalam konferensi pers menjelang pertemuan menteri keuangan G20 di Asheville Carolina Utara ia menggambarkan adanya tarik-menarik antara tekanan negatif dari gangguan pasokan energi di kawasan Teluk dan dorongan positif dari investasi AI. Meski risiko terhadap prospek ekonomi global kini lebih seimbang dibanding April lalu arahnya masih cenderung ke sisi negatif.

Penyebab utama kekhawatiran ini adalah tekanan fiskal yang membesar serta potensi bank sentral harus mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama. Langkah ini diperlukan untuk meredam inflasi yang berisiko memicu lonjakan biaya pembayaran utang dan memperlambat aktivitas ekonomi secara umum.

Harga minyak mentah Brent yang kini stabil di kisaran 80 hingga 90 dolar AS per barel sejak Juni lalu jauh di bawah puncaknya yang pernah menyentuh 118 dolar AS mungkin terlihat menenangkan. Namun Georgieva menegaskan guncangan energi ini belum selesai. Potensi lonjakan harga minyak kembali dapat memicu gelombang inflasi baru yang memaksa bank sentral bertindak lebih agresif.

Oleh karena itu ia mendesak seluruh negara untuk segera membenahi persoalan fiskal masing-masing. Diperlukan rencana kredibel untuk menjaga utang dan defisit tetap berada di jalur yang berkelanjutan. Peringatan ini muncul tak lama setelah imbal hasil obligasi Pemerintah AS tenor 30 tahun melonjak tajam pekan lalu memicu langkah tak terduga dari Menteri Keuangan AS Scott Bessent untuk menggandakan pembelian kembali obligasi jangka panjang.

Georgieva juga menekankan pentingnya bank sentral tetap fokus penuh pada mandat stabilitas harga di tengah bayang-bayang inflasi. Selain itu ia menyoroti perlunya mengatasi ketimpangan ekonomi global yang kerap menjadi pemicu ketegangan dagang. Ia secara tidak langsung menyarankan Tiongkok untuk mengubah model pertumbuhan ekonominya dari bergantung pada ekspor menjadi lebih bertumpu pada konsumsi domestik.

Ekonomi yang lebih seimbang berarti ekonomi global yang lebih kuat dan itu baik untuk semua pihak ujarnya. IMF sendiri sedang menyempurnakan model penilaian neraca eksternal dan akan memperdalam analisis terkait faktor-faktor pemicu ketimpangan global termasuk interaksi antara tren makroekonomi kebijakan dagang dan kebijakan industri. Proyeksi terbaru IMF akan dirilis pada pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia di Bangkok pertengahan Oktober mendatang.

Ikuti Kami di Google News:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *