faseberita.id – Klaim Presiden Donald Trump yang menyebut potensi ancaman kecerdasan buatan atau AI terhadap kemanusiaan sebagai kabar bohong dibantah tegas oleh sebagian besar pemimpin perusahaan terkemuka di Amerika Serikat. Sebuah pertemuan tertutup para eksekutif papan atas di Washington mengungkap pandangan berbeda yang mengejutkan.
Dalam sebuah survei kilat yang dilakukan Yale School of Management, 93 persen peserta forum menyatakan Trump keliru besar. Mereka meyakini bahaya katastrofik AI adalah realitas yang harus diwaspadai, bukan sekadar hoaks seperti yang dilontarkan Trump sebelumnya.

Profesor Jeffrey Sonnenfeld, penggagas forum dan pakar manajemen Yale, mengaku terkejut dengan hasil tersebut. Menurutnya, para nakhoda korporasi, baik saat diskusi maupun setelahnya, secara konsisten menyuarakan keinginan untuk memperbanyak pembahasan mengenai strategi mitigasi dampak buruk AI. "Sentimennya jelas: ancaman ini nyata adanya," tegas Sonnenfeld.
Pertemuan para pemimpin bisnis ini berlangsung menjelang jamuan makan malam kenegaraan di Gedung Putih bersama Presiden China Xi Jinping. Persaingan global dalam pengembangan teknologi AI tercanggih diprediksi menjadi salah satu agenda utama dalam pertemuan tersebut.
Survei yang sama juga menunjukkan 88 persen eksekutif berharap Trump mengangkat isu kerja sama dengan China dalam merumuskan pedoman keamanan AI. Namun, optimisme mereka tidak terlalu tinggi. Sekitar tiga perempat responden pesimis Trump akan mendorong pembentukan batasan bersama tersebut.
Selama ini, Trump memang menolak desakan untuk memperketat regulasi AI di tingkat federal. Ia berargumen bahwa aturan semacam itu hanya akan merugikan industri secara finansial dan justru memberikan keuntungan strategis bagi China.
Di sisi lain, para petinggi perusahaan AI terbesar dunia, termasuk Anthropic dan OpenAI, justru menyerukan perlambatan pengembangan AI tingkat lanjut. Mereka menekankan pentingnya memastikan keamanan teknologi sebelum melangkah lebih jauh. Pihak Gedung Putih sendiri belum memberikan tanggapan terkait isu ini.
Banyak eksekutif yang hadir di forum tersebut berasal dari berbagai sektor dan wilayah di luar Silicon Valley, seperti CEO produsen perkakas Snap-on, Motorola Solutions, serta produsen kaca Corning. Tokoh politik dari kubu Republik dan Demokrat, termasuk mantan Wakil Presiden Mike Pence dan mantan Ketua DPR AS Nancy Pelosi, juga turut hadir.
Terungkap bahwa banyak eksekutif enggan menyuarakan pandangan mereka secara terbuka. Kekhawatiran akan berseberangan dengan pemerintahan Trump menjadi alasan utama. Oleh karena itu, jajak pendapat anonim menjadi sarana bagi mereka untuk menyampaikan kekhawatiran secara kolektif.
Salah satu yang berani bersuara adalah Chris Layden, CEO perusahaan penyedia tenaga kerja Kelly. Ia menegaskan bahwa potensi bahaya AI dan risiko kalah bersaing dengan China adalah dua isu krusial yang harus ditangani secara bersamaan. Layden juga mendesak pemerintah dan dunia usaha untuk lebih serius memperhatikan dampak teknologi ini terhadap lapangan kerja dan pekerja di AS. Menurutnya, Amerika Serikat sudah sangat membutuhkan strategi kesiapan tenaga kerja yang komprehensif dalam menghadapi era AI. Strategi tersebut juga harus mampu membangun kepercayaan pekerja terhadap teknologi yang sebenarnya berpotensi meningkatkan produktivitas dan efisiensi mereka.







