News  

IHSG Meroket Tak Gentar Badai Global Menerpa

admin
IHSG Meroket Tak Gentar Badai Global Menerpa

faseberita.id – Indeks Harga Saham Gabungan IHSG berhasil menunjukkan ketangguhannya hari ini melesat naik di tengah gempuran sentimen negatif global yang berpotensi mengguncang pasar. Meski dihantui bayang-bayang kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat The Fed dan gejolak geopolitik Timur Tengah IHSG justru perkasa menembus zona hijau.

Pada penutupan perdagangan sesi kedua IHSG mencatatkan kenaikan signifikan nol poin empat nol persen atau melonjak dua puluh lima poin lima delapan ke level enam ribu empat ratus enam puluh dua poin empat tiga. Pergerakan indeks sempat menyentuh titik terendah enam ribu empat ratus delapan belas dan tertinggi enam ribu lima ratus. Sebanyak tiga ratus delapan puluh empat saham berhasil menguat dua ratus empat puluh empat saham melemah dan seratus enam puluh empat saham tidak bergerak. Total nilai transaksi mencapai tiga belas koma sembilan dua triliun rupiah dengan volume perdagangan dua puluh delapan koma lima dua miliar saham dan frekuensi transaksi satu koma delapan enam juta kali.

IHSG Meroket Tak Gentar Badai Global Menerpa
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Kinerja positif IHSG hari ini didorong oleh mayoritas sektor perdagangan yang menguat. Sektor konsumer energi dan teknologi menjadi motor utama kenaikan sementara sektor kesehatan properti utilitas dan barang baku harus rela melemah. Beberapa emiten yang menjadi penopang utama lonjakan IHSG antara lain BMRI DSSA DCII BYAN dan VKTR. Penguatan ini menjadi angin segar setelah sehari sebelumnya IHSG sempat melemah nol poin tiga delapan persen.

Namun di balik kegemilangan IHSG ancaman global masih membayangi. Keputusan The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar dua puluh lima basis poin menjadi kisaran tiga poin tujuh lima hingga empat persen menjadi sorotan utama. Ini adalah kenaikan pertama sejak Juli dua ribu dua puluh tiga dan sinyal kenaikan lanjutan hingga akhir tahun masih sangat kuat. Enam belas dari delapan belas pejabat The Fed memperkirakan setidaknya ada satu kenaikan lagi sebesar dua puluh lima basis poin mencerminkan kekhawatiran mendalam terhadap inflasi yang masih tinggi.

Dampak keputusan The Fed langsung terasa indeks dolar AS melonjak ke level seratus poin dua lima dua tertinggi sejak dua belas Agustus dua ribu dua puluh enam. Imbal hasil US Treasury tenor sepuluh tahun juga menembus lima poin nol nol empat persen level tertinggi sejak Juli dua ribu tujuh. Kondisi ini berpotensi besar menekan nilai tukar rupiah dan memicu arus modal keluar ke aset berdenominasi dolar AS. Daya tarik obligasi AS juga meningkat dibandingkan aset negara berkembang termasuk saham dan surat utang Indonesia.

Tekanan pasar semakin diperparah oleh memanasnya konflik di Timur Tengah. Kelompok Houthi dilaporkan berhasil menguasai sejumlah wilayah strategis di sekitar Selat Bab el-Mandeb jalur vital perdagangan minyak global. Bersama Selat Hormuz jalur ini merupakan titik krusial distribusi energi dunia. Perkembangan ini meningkatkan risiko gangguan pasokan dan distribusi minyak yang dapat mempertahankan tekanan harga energi global. Kenaikan harga minyak berpotensi memperbesar risiko inflasi global sekaligus menambah beban bagi negara-negara pengimpor energi termasuk Indonesia.

Di sisi lain tekanan terhadap The Fed juga datang dari Presiden AS Donald Trump yang kembali mendesak penurunan suku bunga secara agresif hingga satu persen atau lebih rendah. Perbedaan pandangan ini menambah perhatian pasar terhadap arah kebijakan moneter AS dan independensi bank sentral. Dari dalam negeri pelaku pasar juga akan mencermati sejumlah perkembangan seperti penerapan pemungutan PPh pedagang daring melalui lokapasar pada satu Oktober dua ribu dua puluh enam serta penindakan OJK terhadap emiten yang melanggar ketentuan pasar modal.

Sementara itu pasar global akan menantikan rilis klaim pengangguran AS dan inflasi final Zona Euro Agustus dua ribu dua puluh enam serta keputusan suku bunga Bank of England BoE. Data dan keputusan tersebut akan memberikan petunjuk tambahan mengenai kondisi ekonomi global dan arah kebijakan moneter bank sentral dunia.

Ikuti Kami di Google News:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *