News  
admin

Ekonomi Bergetar: IHSG Anjlok, Rupiah Dekati Rp18 Ribu/USD

faseberita.id – Pasar keuangan Indonesia menghadapi tekanan signifikan pada Rabu (3/6/2026), ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjun bebas lebih dari 5 persen dan nilai tukar rupiah terpuruk, menembus level Rp 17.930 per dolar Amerika Serikat. Gejolak ini membayangi optimisme pembukaan pasar yang sempat menghijau.

Gambar Istimewa : statik.tempo.co

Pada penutupan sesi pertama pukul 11.53 WIB, IHSG mencatat penurunan tajam 5,01 persen, bertengger di level 5.885,1. Angka ini kontras dengan pembukaan pagi hari yang sempat cerah di level 6.207,1.

Tak hanya pasar saham, nilai tukar rupiah juga tak berdaya. Pada pukul 11.25 WIB, mata uang Garuda ini terdepresiasi signifikan, menyentuh Rp 17.930 per dolar AS.

Menurut David Kurniawan, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), arah pergerakan pasar ke depan akan sangat bergantung pada stabilitas nilai tukar rupiah. "Apabila rupiah berhasil menunjukkan tanda-tanda stabilisasi dalam beberapa pekan mendatang, sentimen pasar berpotensi membaik dan membuka peluang bagi masuknya kembali aliran dana investor asing ke pasar saham maupun obligasi domestik," ujar David dalam siaran persnya pada Selasa (2/6/2026).

Ia menambahkan, meskipun Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,25 persen untuk meredam tekanan eksternal, pasar masih akan mencermati efektivitas kebijakan tersebut dalam menahan volatilitas rupiah dan arus keluar modal. Selain itu, kebijakan moneter Amerika Serikat juga menjadi sorotan utama pasar pekan ini.

Menyoroti faktor-faktor di balik pelemahan rupiah, Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa dari sisi eksternal, kebuntuan perundingan antara Amerika Serikat dan Iran menjadi pemicu utama. Situasi ini berdampak pada kenaikan harga minyak mentah dunia, yang turut menekan mata uang domestik.

Secara internal, Ibrahim menggarisbawahi tingginya permintaan dolar AS di pasar domestik. "Fenomena yang kami amati adalah masyarakat cenderung mengalihkan dananya dari tabungan konvensional ke tabungan valuta asing, yang secara tidak langsung meningkatkan tekanan terhadap rupiah," ungkap Ibrahim dalam keterangannya pada Rabu (3/6/2026).

Untuk meredam gejolak ini, Ibrahim menekankan pentingnya peran pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat. Ia menyarankan agar pemerintah memastikan ketersediaan barang impor serta memberikan stimulus yang tepat sasaran untuk menjaga konsumsi dan pertumbuhan ekonomi.


Ikuti Kami di Google News:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *