BPS: Konsumsi Masyarakat Bergeser ke Pengalaman, Bukan Barang
JAKARTA – Pola konsumsi masyarakat Indonesia kini menunjukkan pergeseran signifikan, tidak lagi didominasi oleh pembelian barang fisik, melainkan beralih ke pengalaman. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Amalia Adininggar Widyasanti, di Jakarta pada Selasa, 27 Mei 2026.

Menurut Amalia, masyarakat kini lebih cenderung mengalokasikan dananya untuk konsumsi berbasis pengalaman (experience), seperti transportasi, akomodasi di restoran dan hotel, serta perjalanan wisata. "Ini menunjukkan bahwa pola konsumsi masyarakat kita sudah lebih cenderung mengonsumsi yang lebih ke experience dibandingkan belanja baju," jelas Amalia.
Perubahan tren ini tercermin jelas dari data komponen konsumsi rumah tangga pada Triwulan I-2026. Pertumbuhan tertinggi dalam periode tersebut tidak lagi berasal dari belanja pakaian dan alas kaki, melainkan dari sektor transportasi serta restoran dan hotel.
Amalia menambahkan, mobilitas masyarakat yang tinggi selama periode Ramadan dan Idul Fitri 1447 Hijriah turut menjadi pendorong utama pergeseran ini. BPS mencatat adanya peningkatan jumlah perjalanan wisatawan nusantara sebesar 13,14 persen secara tahunan pada Triwulan I-2026.
Untuk mengukur pergerakan wisatawan nusantara, BPS menggunakan metode inovatif melalui data posisi seluler (mobile positioning data). Metode ini merupakan hasil kerja sama dengan tiga penyedia layanan telekomunikasi besar, yakni Telkomsel, XL, dan Indosat. Amalia menekankan bahwa metode ini mampu merekam pergerakan masyarakat antar daerah dengan tetap menjaga kerahasiaan identitas individu. "Kami mengukur wisatawan nusantara itu bukan dengan survei, tetapi dengan bagaimana mereka melakukan mobilitas yang terekam dari mobile positioning data," terangnya.
Selain pergeseran pola perjalanan, perubahan konsumsi juga terlihat dari cara masyarakat bertransaksi yang semakin digital. BPS mencatat transaksi perdagangan melalui sistem elektronik (e-commerce) tumbuh 27,8 persen secara tahunan dan meningkat 6,19 persen secara kuartalan pada Triwulan I-2026. Peningkatan yang lebih fantastis terlihat pada transaksi menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) yang melonjak 111,94 persen secara tahunan.
Amalia menggarisbawahi bahwa perubahan fundamental dalam pola konsumsi dan transaksi ini tidak dapat dilepaskan dari struktur demografi Indonesia yang kini didominasi oleh generasi muda. Berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus yang dirilis BPS pada 5 Mei 2026, generasi milenial dan Generasi Z (Gen Z) mencakup hampir 49 persen dari total penduduk.
Jika ditambah dengan generasi setelah Gen Z (post-Gen Z) yang berusia di bawah 12 tahun dengan porsi 19,65 persen, maka sekitar 68 persen penduduk Indonesia berasal dari kelompok usia muda ini. "Inilah yang menyebabkan pola konsumsi masyarakat kita sudah berubah tidak seperti zaman dulu," tegas Amalia.
Perubahan pola konsumsi ini, menurut Amalia, merupakan informasi krusial yang harus dicermati oleh para pelaku usaha dan pembuat kebijakan. Konsumsi masyarakat tetap menjadi penopang utama perekonomian domestik, sehingga memahami tren ini menjadi kunci untuk merumuskan strategi yang tepat di masa depan.







