News  
admin

Cabai Rawit Merah Mencekik Dompet: Musim Hujan Biang Kerok

JAKARTA, faseberita.id – Warga di sejumlah daerah harus merogoh kocek lebih dalam untuk bumbu dapur esensial. Harga cabai rawit merah di pasar Indonesia kembali meroket, bahkan menembus angka Rp 120 ribu per kilogram di beberapa lokasi. Badan Pangan Nasional (BPN) menunjuk faktor cuaca ekstrem, khususnya musim penghujan yang berkepanjangan, sebagai pemicu utama kenaikan ini lantaran mengganggu jadwal panen dan pasokan.

Gambar Istimewa : statik.tempo.co

Lonjakan harga ini, yang terjadi pada Minggu, 22 Februari 2026, memicu kekhawatiran serius akan stabilitas harga pangan, terutama menjelang momentum Ramadan dan Idul Fitri.

Sekretaris Utama Badan Pangan Nasional, Sarwo Edhy, menyoroti lonjakan harga cabai rawit merah yang kini berkisar antara Rp 100 ribu hingga Rp 120 ribu per kilogram. Berdasarkan pantauan panel harga BPN, rata-rata nasional cabai rawit merah per tanggal tersebut mencapai Rp 79.094 per kilogram. Angka ini menunjukkan kenaikan signifikan sebesar 38,76 persen dari harga acuan pembelian yang ditetapkan pemerintah, yaitu di rentang Rp 40 ribu hingga Rp 57 ribu per kilogram.

"Yang harus kita jaga adalah stabilisasi pasokan dan harga pangannya. Sehingga gejolak harga di bulan Ramadan ini tidak akan signifikan," tegas Sarwo Edhy dalam keterangan tertulisnya. Ia menjelaskan, intensitas hujan yang tinggi telah menghambat proses panen di sentra-sentra produksi, mengakibatkan pasokan ke pasar terhambat dan memicu kenaikan harga yang tidak terkendali.

Fenomena lonjakan harga ini tidak merata di seluruh wilayah. Kenaikan paling tajam terpantau di Nusa Tenggara Barat (NTB) dengan harga mencapai Rp 120.870 per kilogram. Disusul oleh DKI Jakarta yang mencatat Rp 117.813 per kilogram, dan Banten di posisi ketiga dengan Rp 111.190 per kilogram.

Menanggapi situasi ini, Sarwo Edhy menyuarakan harapan agar harga cabai rawit merah dapat kembali ke kisaran Rp 58 ribu hingga Rp 60 ribu per kilogram. Optimisme ini didasari oleh rencana panen raya di beberapa wilayah sentra produksi utama, seperti Garut, Jawa Barat, yang diharapkan dapat menambah pasokan ke pasar.

Lebih lanjut, BPN juga akan mengoptimalkan Fasilitas Distribusi Pangan (FDP) dari sentra produksi langsung ke pasar induk. Dengan strategi ini, diharapkan efek domino penurunan harga juga akan terasa hingga ke tingkat konsumen, meredakan beban masyarakat.

Pemerintah, melalui Badan Pangan Nasional, menegaskan tidak akan tinggal diam. Tindakan tegas akan diambil terhadap praktik-praktik yang dapat menyebabkan harga pangan melampaui batas wajar dan merugikan masyarakat, terutama saat momentum penting seperti Ramadan dan Idul Fitri. "Pemerintah tidak akan mentoleransi praktik yang menyebabkan harga pangan melampaui ketentuan dan merugikan masyarakat," pungkas Sarwo Edhy.


Ikuti Kami di Google News:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *