News  

7 Perusahaan Segera Melantai di Bursa

admin
7 Perusahaan Segera Melantai di Bursa

faseberita.id – Pasar modal Indonesia bersiap menyambut gelombang baru perusahaan yang akan melakukan pencatatan saham perdana atau Initial Public Offering (IPO). Memasuki kuartal keempat tahun ini, Bursa Efek Indonesia (BEI) mengonfirmasi bahwa terdapat tujuh perusahaan yang tengah mengantre untuk melantai di bursa guna memperkuat struktur pasar modal tanah air.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Saidu Solihin, mengungkapkan bahwa saat ini terdapat tujuh perusahaan yang sudah masuk dalam daftar antrean (pipeline) pencatatan saham. Fenomena ini menjadi angin segar bagi dinamika perdagangan di lantai bursa, mengingat kondisi pasar yang tengah menghadapi berbagai tantangan global.

7 Perusahaan Segera Melantai di Bursa
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Berdasarkan rincian profil perusahaan yang akan IPO, terdapat keberagaman skala aset yang dibawa ke pasar modal. Dari tujuh calon emiten tersebut, dua perusahaan merupakan pemain besar dengan nilai aset melampaui Rp250 miliar. Sementara itu, tiga perusahaan lainnya berada pada skala menengah dengan rentang aset antara Rp50 miliar hingga Rp250 miliar. Sisanya, yakni dua perusahaan, merupakan pemain skala kecil dengan aset di bawah Rp50 miliar.

Jika menilik sektor bisnisnya, sektor kesehatan menjadi primadona dengan jumlah calon emiten terbanyak, yakni empat perusahaan. Sektor energi menyusul dengan dua perusahaan, dan sektor industri menyumbang satu perusahaan dalam daftar antrean ini.

Namun, jika menilik data historis sepanjang tahun 2026, terlihat adanya tren penurunan jumlah perusahaan yang melakukan IPO. Data BEI menunjukkan bahwa jumlah IPO hingga Agustus 2026 mengalami penurunan drastis sebesar 68,2% jika dibandingkan dengan periode Januari-Agustus 2025 yang mencatat 22 perusahaan. Penurunan ini juga berdampak pada perolehan dana, di mana penghimpunan dana anjlok sekitar 79,2% dari Rp10,39 triliun pada tahun sebelumnya menjadi Rp2,16 triliun.

Menanggapi fenomena ini, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menjelaskan bahwa ketidakpastian geopolitik global menjadi salah satu faktor utama. Dinamika pasar dunia membuat banyak perusahaan cenderung sangat berhati-hati dalam menentukan waktu (timing) yang tepat untuk melakukan penawaran umum.

Meski jumlah emiten baru menurun, OJK menegaskan bahwa fokus utama mereka bukan sekadar mengejar kuantitas, melainkan kualitas perusahaan yang melantai di bursa. OJK menargetkan penghimpunan dana pasar modal mencapai Rp250 triliun pada tahun 2026. Hingga awal September 2026, realisasi penghimpunan dana telah menyentuh angka Rp148,3 triliun.

OJK berkomitmen untuk terus mengedepankan keterbukaan informasi dan kesiapan fundamental calon emiten. Di sisi lain, meskipun jumlah IPO berkurang, minat investor terhadap saham-saham baru yang baru melantai ternyata masih cukup tinggi, terbukti dengan adanya lonjakan harga signifikan pada sejumlah saham IPO tahun 2026. Untuk mendorong lebih banyak perusahaan masuk ke bursa, BEI dan OJK terus gencar melakukan sosialisasi serta coaching clinic di berbagai daerah di Indonesia.

Ikuti Kami di Google News:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *