News  

Magnet Sukuk Indonesia di Mata Dunia

admin
Magnet Sukuk Indonesia di Mata Dunia

faseberita.id – Dinamika pasar keuangan global yang penuh dengan ketidakpastian kini mulai mengubah arah minat para investor besar. Di tengah fluktuasi ekonomi dunia, instrumen keuangan berbasis syariah, khususnya sukuk, kini tengah menjadi primadona baru yang diburu oleh investor mancanegara. Fenomena pergeseran preferensi ini menjadi sinyal positif bagi stabilitas ekonomi nasional.

Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengungkapkan bahwa instrumen syariah kini semakin dilirik karena karakteristiknya yang unik dan tangguh. Berbeda dengan instrumen konvensional, sukuk memiliki keunggulan fundamental karena selalu didasarkan pada aset nyata atau proyek tertentu sebagai dasar penerbitannya (underlying asset). Hal inilah yang membuat nilai sukuk cenderung lebih stabil saat pasar keuangan global sedang mengalami guncangan.

Magnet Sukuk Indonesia di Mata Dunia
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

"Memang sekarang terjadi pergeseran. Banyak investor yang mulai beralih, dan biasanya produk keuangan syariah itu relatif stabil karena memiliki underlying asset yang jelas," ujar Destry saat memberikan sambutan dalam pembukaan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026 di Jakarta, Selasa (14/10/2026).

Menariknya, daya tarik sukuk Indonesia tidak hanya terbatas pada negara-negara dengan mayoritas penduduk Muslim. Destry mencatat bahwa investor dari wilayah Barat, seperti Amerika Serikat dan Eropa, kini mulai menunjukkan minat yang sangat besar. Alasan utamanya adalah aspek keberlanjutan (sustainability) yang ditawarkan oleh produk syariah. Mereka melihat instrumen ini sebagai investasi yang lebih aman dan memiliki landasan ekonomi yang kuat.

Salah satu bukti nyata keberhasilan Indonesia dalam merambah pasar global adalah melalui penerbitan Green Sukuk. Sejak pertama kali diluncurkan pada tahun 2018, instrumen berbasis lingkungan ini telah mencatatkan angka yang fantastis. Akumulasi penerbitan Green Sukuk Indonesia di pasar internasional telah menyentuh angka US$7,7 miliar. Sementara itu, di pasar domestik, nilai penerbitannya telah mencapai Rp108,9 triliun.

Pemerintah pun tidak tinggal diam dalam menangkap peluang emas ini. Melalui penerbitan sukuk global secara rutin, pemerintah berupaya memperluas akses pasar agar pendanaan pembangunan dapat terserap secara maksimal dari berbagai penjuru dunia.

Meski menunjukkan tren positif, potensi pengembangan keuangan syariah di Indonesia masih sangat luas. Jika merujuk pada data Direktorat Jenderal Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan per 30 September 2026, total outstanding Surat Berharga Negara (SBN) pemerintah mencapai Rp8.962,39 triliun. Namun, porsi pembiayaan syariah baru menyumbang sekitar 20,29% dari total tersebut.

Melihat celah pertumbuhan yang masih besar, Destry mendorong kolaborasi antar kementerian dan lembaga untuk menciptakan variasi produk keuangan syariah yang lebih beragam. Inovasi produk diharapkan dapat memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat, baik dari investor domestik maupun global, guna memperkuat struktur ekonomi nasional.

Ikuti Kami di Google News:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *